Kisah Para Remaja Merakit Pesawat Sendiri lalu Menerbangkannya Sejauh 12.000 Km

Anton Suhartono ยท Selasa, 09 Juli 2019 - 18:38 WIB
Kisah Para Remaja Merakit Pesawat Sendiri lalu Menerbangkannya Sejauh 12.000 Km

Pesawat Sling 4 hasil rakitan para remaja Afsel sukses menjelajah sejauh 17.000 km (Foto: BBC)

CAPE TOWN, iNews.id - Sebuah pesawat kecil yang dirakit para remaja Afrika Selatan berhasil menyelesaikan misi penerbangan dari Cape Town, Afrika Selatan, menuju Kairo, Mesir.

Pesawat Sling 4 dengan kapasitas empat tempat duduk itu dirakit oleh 20 mahasiswa dari latar belakang berbeda. Mereka juga yang menerbangkan pesawat itu.

Mereka terbang menuju Kairo dengan singgah di beberapa negara, seperti Namibia, Malawi, Ethiopia, Zanzibar, Tanzania, dan Uganda, dengan total jarak tempuh 12.000 kilometer.

Pilot yang juga penggagas proyek U-Dream Global, Megan Werner (17), mengaku sangat senang dengan pencapaian tersebut.

"Saya merasa terhormat telah membuat perbedaan di tempat-tempat yang kami singgahi. Tujuan dari penerbangan ini adalah menunjukkan kepada Afrika bahwa tidak ada yang mustahil jika Anda melakukannya," ujar Werner, dikutip dari BBC, Selasa (9/7/2019).

Ada dua pesawat Sling 4 yang mengikuti misi ini, namun satu lainnya diterbangkan oleh pilot profesional untuk menemani Werner dan reman-temannya.

Mereka membuat pesawat itu dalam 3 pekan menggunakan bahan yang diproduksi di dalam negeri oleh Airplane Factory. Ayah Megan yang juga pilot komersial, Des Werner, mengatakan dibutuhkan waktu 3.000 jam untuk merakit Sling 4.

Namun penerbangan ini bukan tanpa halangan. Di ibu kota Ethiopia, Addis Ababa, mereka tidak bisa mendapat bahan bakar.

"Ketika kami mendapatkannya, pesawat pendukung mengalami kebocoran bahan bakar sehingga mereka tidak bisa terbang bersama kami dan hanya dua orang, Driean van den Heever, pilot, dan saya melanjutkan," kata Werner.

Selain itu, ada gejolak politik di negara yang disinggahi, namun semua bisa dilewati dengan aman.

"Kami khawatir terbang melintasi Sudan karena kerusuhan politik di negara itu," ujarnya.

Werner merupakan satu dari enam mahasiswa itu yang sudah memiliki lisensi pilot. Enam orang itu berbagi tugas menerbangkan pesawat yang digambar peta Afrika di kedua sayap itu.

Pilot sempat menghadapi masalah dengan AU Mesir. Mereka memutuskan untuk mendarat di bandara domestik terdekat di Kairo, ketimbang bandara internasional.

"Ketika kami mendarat di Mesir, pihak berwenang ingin menangkap kami, mengambil paspor dan lisensi kami. Tapi untungnya setelah sekitar 4 jam, semuanya beres dan kami bisa mendapatkan lebih banyak bahan bakar. Benar-benar perasaan luar biasa bisa mendarat di sini," tuturnya.


Editor : Anton Suhartono