Kisah Para TKI saat Hong Kong Diguncang Demonstrasi, Ada yang Terjebak di Bentrokan

Anton Suhartono ยท Sabtu, 19 Oktober 2019 - 06:23 WIB
Kisah Para TKI saat Hong Kong Diguncang Demonstrasi, Ada yang Terjebak di Bentrokan

Aktivitas TKI di Victoria Park (Foto: AFP)

HONG KONG, iNews.id - Situasi keamanan di Hong Kong akibat aksi unjuk rasa warga yang memprotes pemerintah turut berdampak pada tenaga kerja Indonesia (TKI).

Aksi unjuk rasa berlangsung sejak Juni 2019 dan masih berlangsung hingga saat ini. Mulanya, tuntutan massa adalah pembatalan RUU ekstradisi yang kemudian berkembang menjadi lima, termasuk salah satunya soal peran China di kota semiotonomi bekas jajahan Inggris itu.

Baca Juga: 5 Fakta Demonstrasi Hong Kong, Kerusuhan di Bandara hingga Tangisan Pemimpin Lam

Salah seorang TKI, Jochel, mengatakan, biasanya dia menghabiskan waktu libur di taman Hong Kong, bertemu dengan teman-teman seprofesi, serta melakukan video call dengan keluarga di Indonesia. Namun selama musim panas lalu dia tak bisa leluasa menghabiskan waktu di tempat umum.

Pria 35 tahun itu merupakan satu dari lebih dari 370.000 pekerja rumah tangga, sebagian besar asal Indonesia, yang secara tak langsung membuat denyut ekonomi Hong Kong terus berdetak.

(Aktivitas para TKI di dekat Victoria Park Hong Kong/AFP)

Sejak 4 bulan terakhir Jochel dan TKI lainnya menghabiskan waktu libur pada Minggu dengan beristirahat di rumah. Apalagi, biasanya demonstrasi berlangsung di akhir pekan.

"Mata saya sangat sakit," kata Jochel, mengisahkan pengalaman pertama saat dia terjebak bentrokan antara demonstan dan polisi di Victoria Park.

Dia menambahkan, massa pengunjuk rasa menolong dengan mencuci muka menggunakan larutan garam lalu membawanya ke tempat aman.

Baca Juga: Imbauan KJRI Hong Kong kepada WNI Terkait Demonstrasi Menentang RUU Ekstradisi

Lokasi lain yang dijadikan tempat berlibur para TKI adalah Causeway Bay. Namun lokasi itu juga sering digunakan untuk demonstrasi.

Sejak aksi pecah pada 9 Juni, lebih dari 3.000 gas air mata ditembakkan di seluruh wilayah Hong Kong.

Sementara itu TKI lainnya, Sandy, mengatakan, dia sering pergi trekking bersama teman-temannya di jalan setapak. Namun saat ini dia cenderung tinggal di rumah majikannya, khawatir terjebak di bentrokan. Terlebih moda transportasi umum biasanya terganggu dan bisa membuatnya terdampar.

(TKI berfoto di Victoria Park mengenakan pakaian pengantin tradisonal setempat/AFP)

"Kalau pergi terlalu jauh, kami khawatir tidak bisa pulang. Kami harus sudah di rumah pukul 22.00 atau 21.00," katanya.

Meskipun kondisi keamanan Hong Kong masih tegang, lanjut Sandy, banyak TKI, termasuk dirinya, merasa belum perlu untuk pulang.

Baca Juga: Situasi Hong Kong Memanas, WNI Diimbau Tak Gunakan Pakaian Hitam atau Putih

"Majikan masih membutuhkan kami dan kami juga masih membutuhkan pekerjaan ini," kata Sandy, yang juga harus membantu memenuhi kebutuhan keluarganya di Indonesia.

Ketua Jaringan Buruh Migran Indonesia, Eni Lestari, mengatakan, banyak TKI takut kehilangan pekerjaan karena akan berarti mereka kehilangan visa.

Berkaca dari tertembaknya jurnalis Indonesia Veby Mega Indah oleh polisi Hong Kong, Eni mengatakan, warga asing, termasuk WNI, harus berhati-hati jika menghadapi masalah dengan hukum. Apalagi jika terbukti terlibat dalam demonstrasi.

Baca Juga: Jurnalis Indonesia Veby Mega Indah yang Tertembak saat Demo Hong Kong Alami Kebutaan

"Jika Anda kedapatan bergabung dengan kelompok terkait dengan unjuk rasa Hong Kong, ada kemungkinan besar tidak dapat bekerja di Hong Kong lagi," katanya.

Organisasinya sebenarnya akan menggelar aksi unjuk rasa untuk mendukung Veby pada Minggu (20/10/2019), namun dibatalkan karena bertepatan dengan demonstrasi pro-demokrasi.

Mereka akan menjadwal kembali acara tersebut yakni hari kerja dengan tempat di luar Konsulat Jenderal RI dengan tututan meminta Pemerintah Indonesia menekan otoritas Hong Kong agar menyelidiki, mengidentifikasi, dan menuntut polisi yang menembak Veby.


Editor : Anton Suhartono