Kisah Pilu Muslim India Cemaskan Masa Depan di Bawah Kepemimpinan PM Modi

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 17 Mei 2019 - 10:02 WIB
Kisah Pilu Muslim India Cemaskan Masa Depan di Bawah Kepemimpinan PM Modi

PM India Narendra Modi saat bertemu petinggi umat Muslim di India. (foto: Prakash Singh/AFP)

NEW DELHI, iNews.id - Dengan meningkatnya kejahatan kebencian terhadap Muslim di India beberapa tahun terakhir, beberapa pihak cemas kalau negara demokrasi terbesar di dunia ini akan menjadi sangat intoleran di bawah kekuasaan Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP).

Menurut laporan BBC, kekerasan terbaru terjadi hanya beberapa hari sebelum tahap pertama pemungutan suara dalam pemilihan umum India.

Seorang pedagang Muslim di negara bagian Assam sedang pulang kerja ketika didatangi oleh massa. Pria bernama Shaukat Ali itu dikelilingi oleh kelompok tersebut, diserang, dan dipaksa berlutut di lumpur.

"Apa kamu orang Bangladesh?" teriak seorang lelaki, mempertanyakan kewarganegaraan Indianya, seperti dipaparkan BBC, Jumat (17/5/2019).

"Kenapa kamu menjual daging sapi di sini?" tanya yang lain, sambil menusukkan jarinya ke Ali.

Alih-alih menolong Ali, kerumunan yang berkumpul malah merekam kejadian itu di ponsel mereka.

Massa memaksa Ali makan daging babi

Sebulan kemudian, Ali masih kesulitan untuk berjalan. Ditemui BBC, tampak rumahnya tidak jauh dari pasar, dikelilingi oleh pedesaan hijau dan sawah yang subur.

Pria berusia 48 tahun itu duduk bersila di tempat tidur, matanya dipenuhi air mata ketika menceritakan kengerian dari apa yang terjadi.

"Mereka memukuli saya dengan tongkat, mereka menendang wajah saya," katanya, seraya menunjukkan cedera pada tulang rusuk dan kepalanya.

Selama berpuluh-puluh tahun keluarganya telah menyajikan kari daging sapi dari warung kecil mereka —namun mereka belum pernah menghadapi masalah seperti itu.

Beberapa negara menetapkan perdagangan daging sapi ilegal karena orang Hindu menganggap sapi sebagai hewan suci —tapi masih legal untuk menjualnya di Assam.

Shaukat Ali tidak hanya terluka secara fisik —martabatnya pun dilucuti. Massa membuat Muslim yang taat itu memakan daging babi, memaksanya untuk mengunyah, dan kemudian menelannya.

"Sekarang saya tidak punya alasan untuk hidup," katanya, sambil menangis.

"Ini adalah serangan terhadap seluruh keyakinan saya."

Pada hari ketika ditemui BBC, puluhan anggota komunitas Muslim setempat berkumpul di rumah Ali untuk menengoknya. Ketika mereka mendengarkan ceritanya, beberapa orang mulai menangis dan bertanya-tanya apakah sekarang mereka juga dalam bahaya.

Seiring India memulai pemilihan umum, muncul pertanyaan tentang seberapa inklusif negara demokrasi terbesar di dunia itu bagi populasi minoritas Muslim yang berjumlah 172 juta jiwa.

Shaukat Ali merupakan korban terakhir dari serangan terhadap mereka yang menjual, atau diduga menjual daging sapi.

Serangan terus meningkat

Jumlah serangan seperti ini terus meningkat. Laporan Human Rights Watch pada Februari 2019 menemukan bahwa antara Mei 2015 hingga Desember 2018, sedikitnya 44 orang –36 di antaranya Muslim– tewas di 12 negara bagian India.

Sekitar 280 orang terluka dalam lebih dari 100 insiden di 20 negara bagian selama periode yang sama.

"Kami prihatin atas meningkatnya pelecehan dan penargetan kaum minoritas —khususnya Muslim dan orang-orang dari kelompok yang secara historis kurang mampu dan termarjinalkan, seperti Dalit (sebelumnya dikenal sebagai orang-orang yang haram untuk disentuh)," kata Direktur HAM PBB Michelle Bachelet, dalam laporan tahunannya.

Kekerasan berbasis agama yang menelan korban lintas iman menjadi bagian yang tidak disukai dari sejarah negara ini sejak awal. Namun ada kekhawatiran nyata bahwa mereka yang berkuasa di India saat ini menerima budaya impunitas.

Salah satu contoh paling mengerikan adalah apa yang terjadi menyusul salah satu kasus pemerkosaan beramai-ramai paling mengerikan di India dalam beberapa tahun terakhir.

Anak delapan tahun diperikosa ramai-ramai

Pada Januari tahun lalu, seorang gadis Muslim berusia delapan tahun diculik saat sedang menggembalakan kuda milik keluarganya. Dia diculik di distrik Kathua di wilayah Kashmir yang dikuasai India.

Gadis itu ditahan selama sepekan di sebuah kuil Hindu, dibius, dan berulang kali diperkosa ramai-ramai dan disiksa sebelum dibunuh.

Laporan polisi mengatakan kejahatan tersebut merupakan bagian dari rencana sekelompok pria Hindu untuk mengusir komunitas Muslim Bakerwal yang nomaden, komunitas asal si gadis, dari wilayah itu.

Lebih dari setahun kemudian, seorang petugas polisi berjaga di luar rumah keluarganya di daerah terpencil di Kathua, tersembunyi di ujung jalan tanah yang panjang dan belum diaspal.

"Mereka bilang dia adalah putri seorang Muslim, bunuh dia, dan mereka akan takut dan melarikan diri," kata ayah gadis itu, sambil menyeka air matanya.

Orangtua gadis itu menolak meninggalkan rumah yang pernah ditinggali gadis kecil mereka, namun mereka khawatir akan keselamatan mereka.

"Sekarang kami takut keluar karena nyawa kami terancam," kata ibu gadis tersebut.

"Jika kami melangkah keluar, orang-orang memaki-maki kami dan mengancam akan membunuh kami."

Setelah kematian gadis delapan tahun itu, ratusan orang turun ke jalan dan berunjuk rasa. Namun banyak dari unjuk rasa di daerah malah mendukung delapan pria Hindu yang dituduh melakukan serangan biadab tersebut, dan tidak menunjukkan solidaritas kepada korban dan keluarganya.

Dua menteri BJP yang bertugas di pemerintahan negara bagian, Chaudhary Lal Singh dan Chander Prakash Ganga, ikut turun ke jalan untuk mendukung para tersangka.

"Satu gadis kecil ini meninggal dunia dan ada begitu banyak investigasi. Ada banyak perempuan yang mati di sini," kata Singh, kepada kerumunan massa saat itu.

Sementara PM Modi mengutuk aksi pemerkosaan itu, dia tidak segera meminta kedua menteri itu untuk mundur. Butuh tekanan selama berminggu-minggu sampai mereka akhirnya turun dari jabatannya.

Menurut laporan, sekretaris jenderal BJP Ram Madhav terus membela mereka.

"Partai tidak ingin Ganga dan Singh mundur. Mereka mengundurkan diri karena media menciptakan kesan bahwa mereka mendukung pemerkosaan yang dituduhkan," katanya.

Ini bukan pertama kalinya terjadi. Ada beberapa kesempatan di mana anggota partai BJP secara terbuka mendukung para pelaku kekerasan agama, menunjukkan ketidakpedulian secara terang-terangan bagi mereka yang menderita.

Partai mengusung ideologi nasionalis Hindu dan beberapa tokoh seniornya menyerukan negara Hindu. Namun para pemimpin partai berulang kali menekankan bahwa mereka tidak anti-minoritas.

Sekelompok pria yang dituduh memukuli Mohammad Akhlaq (50) dengan batu bata sampai mati pada 2015 karena mereka curiga dia telah membunuh seekor sapi, menghadiri reli yang diadakan Menteri Utama Uttar Pradesh Yogi Aditanath.

Politisi BJP kontroversial itu, yang baru-baru ini diperintahkan komisi pemilihan umum India untuk menunda kampanye selama beberapa hari pada bulan lalu karena retorika anti-Islamnya, sering berbagi panggung dengan Modi.

Hukuman mati karena membunuh pedagang sapi

Baru-baru ini, Jayant Sinha, menteri penerbangan sipil yang duduk di kabinet Modi, mengatakan kepada BBC bahwa dia mendanai ongkos hukum untuk sekelompok orang yang diberi hukuman mati karena membunuh pedagang sapi Muslim pada 2017.

Dalam wawancara dengan Jugal Purohit dari Hindi BBC, Sinha mengaku membantu para terpidana, yang merupakan anggota BJP, karena dia yakin mereka dipidana secara tidak sah.

Penulis dan aktivis politik terkemuka Arundhati Roy, yang menjadi pengkritik vokal pemerintah BJP, menggambarkan tindakan semacam ini sebagai "outsourcing teror", dengan alasan bahwa kelompok yang main hakim sendiri dapat melakukan kejahatan karena mendapat perlindungan dari atas.

"Bukan hanya para pemimpin yang harus kita perhatikan. Apa yang terjadi pada pikiran orang-orang yang terus-menerus disuapi kebencian semacam ini —untuk menghisap kembali racun seperti itu akan sulit," katanya, kepada BBC.

Namun juru bicara BJP Nalin Kohli menolak anggapan bahwa kebijakan partainya berkontribusi pada peningkatan kejahatan berbasis ras. Dia menuduh laporan PBB dan hak asasi manusia 'membelokkan' data statistik untuk membangun narasi yang tidak pernah ada.

Kohli menekankan, di bawah pemerintahan Modi, BJP memberikan kesejahteraan, yang mengarah pada pengembangan orang-orang dari semua agama.

"Partai itu untuk 1,3 miliar orang India, dan tidak membeda-bedakan berdasarkan agama," katanya.

Tetapi seiring warga India berbondong-bondong ke TPS, beberapa kalangan khawatir kalau kekuasaan BJP periode kedua dapat membawa negara ini lebih dekat ke negara mayoritarian.

Salah satu janji dalam manifesto partai adalah menghapus semua imigran ilegal dari Bangladesh yang tinggal di India.

Partai itu menjanjikan amnesti bagi sebagian orang –Hindu, Budha, Sikh, Kristen, Parsis, dan Jain– tetapi umat Islam secara khusus dikecualikan.

Pada reli kampanye, presiden BJP Amit Shah menyebut para imigran ini sebagai "rayap" dan "penyusup", menuai cercaan dari banyak pihak.

Di distrik Goalpara di Assam, sekelompok penduduk desa duduk melingkar di atas kursi plastik. Banyak yang memegang potongan kertas dengan foto anggota keluarga mereka di atasnya.

Silsilah keluarga sebagai bukti identitas

Tahun lalu, orang-orang di seluruh negara bagian ini diminta untuk menunjukkan dokumentasi silsilah keluarga mereka dan membuktikan bahwa mereka orang India.

Dalam kasus ini, dokumentasi yang membuktikan bahwa mereka memasuki Assam sebelum 24 Maret 1971 —sehari sebelum negara tetangga Bangladesh menyatakan kemerdekaan.

Ufaan, ibu empat anak, membuka selembar kertas. Di bagian atas ada foto suaminya yang meninggal dunia tahun lalu, dan di bawahnya ada wajah anak-anak lelakinya.

Keluarganya lahir di India, tetapi tidak satu pun dari mereka yang akhirnya terdaftar di Data Kependudukan Nasional (NRC) pemerintah. Empat juta penduduk –banyak dari mereka Muslim– juga tidak masuk dalam daftar.

Ufaan takut ini berarti dia mungkin bakal diusir dari satu-satunya negara yang dia anggap sebagai rumahnya.

Duduk di dekatnya adalah Mohammed Samsul, yang juga hidup dalam gelisah. Dia memberi tahu saya bahwa kakek dan ayahnya lahir di Assam dan nama keduanya muncul di daftar.

Dia mengaku meskipun memiliki semua dokumen, namanya tidak muncul di daftar NRC.

"Kami senantiasa hidup dalam ketakutan. Saya takut polisi akan datang pada malam hari dan membawa keluarga kami ke kamp pengungsi."

BJP menegaskan bahwa kebijakan mereka hanya ditujukan bagi imigran ilegal, namun ada ketakutan yang nyata bahwa kebijakan tersebut dapat digunakan untuk mengusir umat Islam.

Kekuatan India terletak pada keanekaragamannya. Hak semua agama untuk hidup berdampingan diabadikan dalam konstitusi negara ini. Namun banyak yang takut kalau iklim politik saat ini membahayakan prinsip sekuler yang mendasar itu.


Editor : Nathania Riris Michico