Kisah Pilu Wanita Yazidi Korban Kekejaman ISIS yang Diperkosa dan Dijual 20 Kali

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 11 September 2019 - 15:22 WIB
Kisah Pilu Wanita Yazidi Korban Kekejaman ISIS yang Diperkosa dan Dijual 20 Kali

Hayfa Adi menceritakan kisah kelam hidupnya setelah diculik oleh ISIS. (FOTO: doc. ABC News)

BRISBANE, iNews.id - Di usia 17 tahun, Hayfa Adi mengaku mengalami kisah tekelam dalam hidupnya. Dia diculik oleh militan kelompok Negara Islam (ISIS) di Irak utara, ditahan selama lebih dari dua tahun dan berulang kali diperkosa.

Dia mengisahkan dirinya kerap dipukuli serta diperdagangkan seperti ternak.

"Mereka membeli kami seolah-olah kami adalah domba. Persis seperti domba," cerita Hayfa, seperti dikutip ABC News, Rabu (11/9/2019).

Yang lebih penting bagi ibu muda ini, saat dia membangun kembali kehidupan keluarganya di Queensland, Australia, adalah mengetahui apa yang terjadi pada suaminya, Ghazi Lalo.

"Tak mengetahui apa-apa adalah hal yang sangat sulit, sangat sulit bagi kami semua," katanya.

Putra tertua pasangan itu masih balita ketika Ghazi menghilang.

"Dia ingat ayahnya dan terus bertanya, 'Bu, kapan ayah kembali?'," tutur Hayfa.

Bungsu mereka tak pernah mengenal ayahnya. Dia dilahirkan di kamp penangkapan ISIS.

Putra Hayfa Adi bersekolah di wilayah Toowoomba, Australia. (foto: ABC News/Nic Coleman)

"Dia mirip seperti ayahnya, matanya, mulutnya. Ketika saya melihatnya, saya merasa seperti suami saya ada bersama saya," katanya.

"Kami benar-benar harus menemukan cara untuk bertahan hidup."

Sudah lima tahun berlalu sejak keluarga Hayfa hancur akibat tindakan genosida ISIS terhadap orang-orang Yazidi di Irak utara dan Suriah. Sebanyak 7.000 ribu anggota etnis minoritas dan agama ini terbunuh sementara 3.000 lainnya hilang.

Saat penangkapan, Hayfa, yang sedang hamil tua, berada di rumahnya di desa Kocho bersama Ghazi dan putra sulung mereka.

"Saya sudah membuat makan siang dan kami siap makan," katanya.

"Sekitar tengah hari, ada yang mengetuk pintu. Paman suami saya berlari ke arah kami sambil berkata, 'ISIS ada di Kocho'," tuturnya.

Kelompok teroris itu menggiring 1.200 penduduk kota ke sekolah setempat.

"Mereka memerintahkan kami untuk masuk Islam. Tak ada yang masuk Islam. Setelah itu mereka membawa para pria. Kami tak tahu ke mana mereka membawa mereka," katanya.

Saksi mata mengatakan kepada PBB bahwa para pria itu dibawa pergi dan ditembak.

Terlepas dari laporan itu, Hayfa terus yakin pada harapannya bahwa dia akan melihat suaminya dan kembali bahagia.

Hayfa Adi dengan foto pernikahannya. Ia berharap sang suami masih hidup. (FOTO: doc. Susan Callinan, Australian Red Cross)

Namun, pada suatu hari pada Agustus 2014, mimpi buruk Hayfa dan para perempuan Yazidi lainnya justru baru dimulai.

Selama lebih dari dua tahun, Hayfa diperdagangkan di antara militan ISIS di Irak dan Suriah, dibeli dan dijual sekitar 20 kali.

"Banyak orang membawa saya, menyiksa saya, memukul saya," katanya.

Dia berontak terhadap para penawannya kapan saja dia bisa, menentang perintah mereka untuk membuka pakaian bagi calon pembeli.

"Saya menolak untuk menunjukkan tubuh saya kepada mereka," katanya.

"Kami harus menunjukkan tangan kami. (Berkulit) putih dianggap baik. Dan mereka akan melihat apakah rambut kami indah dan panjang."

Hayfa berulang kali diperkosa, tetapi ketakutan terbesarnya adalah kehilangan anak-anaknya.

"Mereka mengambil putra tertua saya dari saya selama satu bulan karena saya tak mau tidur dengan penculik saya," katanya.

"Mereka mengikat tangan dan kaki saya, menutup mata saya, dan menyumbat mulut saya. Mereka memukul saya dan membuat saya terkunci di sebuah ruangan."

"Setelah itu saya membiarkan mereka tidur bersama saya supaya saya bisa mendapatkan anak saya kembali."

Hayfa dan putra-putranya akhirnya melarikan diri dari ISIS ketika mertuanya membayar seorang penyelundup manusia untuk membeli kebebasannya.

Mereka tiba di Toowoomba, Queensland, dengan visa kemanusiaan tahun lalu; dan bergabung dengan komunitas Yazidi di sana yang mencapai lebih dari 800 orang.

Hayfa Adi dan dua putranya membangun kembali hidup mereka di Australia. (FOTO: ABC News/Nic Coleman)

Dua anaknya belajar di taman kanak-kanak dan sekolah setempat, sementara Hayfa belajar bahasa Inggris di sekolah kejuruan.

"Saya sangat nyaman di sini bersama anak-anak saya," katanya.

"Yang paling penting adalah kehidupan anak-anak saya, bukan hidup saya. Dan tentu saja jika suami saya kembali, hidup saya akan benar-benar indah."

Namun, menurut pekerja Palang Merah Australia, Sue Callender, yang berusaha menemukan nasib Ghazi, kemungkinan itu kecil.

Sue merupakan bagian dari Tim Penelusuran lembaga kemanusiaan itu, yang bekerja menghubungkan kembali orang-orang yang dipisahkan oleh konflik, imigrasi atau bencana.

"Ghazi hilang di sebuah daerah bernama Kocho dan kami tahu bahwa banyak Yazidi ditangkap di Kocho dan juga banyak yang dieksekusi dengan mengerikan," katanya.

"Kami hanya berharap, demi Hayfa, dia ditemukan hidup-hidup, tapi itu mungkin tak terjadi."

Lima tahun setelah apa yang sekarang dikenal sebagai Pembantaian Kocho, penggalian 17 tempat yang diduga kuburan massal di sekitar kota itu dimulai.

Ada kemungkinan jasad Ghazi bisa dikenali dengan bantuan DNA putra-putranya.

"Perasaan saya campur aduk," kata Hayfa.

"Saya sangat takut suami saya ada di antara mereka yang mati, bahwa semua pria mati. Hati saya pilu."

"Seluruh dunia melihat apa yang terjadi pada para perempuan, para perempuan Yazidi. Apa yang terjadi pada para pria? Mati?"

"ISIS menghancurkan rumah kami dan mengambil martabat kami. Kami benar-benar lelah, itu sebabnya saya ingin menceritakan kisah saya, sehingga mereka tak akan melakukan ini lagi."


Editor : Nathania Riris Michico