Komedian Rusia Mengaku Kelabui Presiden Prancis lewat Telepon Prank

Anton Suhartono ยท Jumat, 26 April 2019 - 06:06 WIB
Komedian Rusia Mengaku Kelabui Presiden Prancis lewat Telepon Prank

Vovan (kiri) dan Lexus (Foto: AFP)

MOSKOW, iNews.id - Dua komedian Rusia mengaku telah mengelabui Presiden Prancis Emmanuel Macron. Mereka berpura-pura sebagai presiden Ukraina terpilih, Volodymyr Zelensky, berbincang melalui telepon dengan orang yang disebut sebagai Macron.

Rekaman audio berdurasi 15 menit hasil perbuatan usil komedian Vladimir 'Vovan' Kuznetsov dan Alexei 'Lexus' Stolyarov itu diunggah ke media sosial hingga menjadi viral. Percakapan dilakukan menggunakan bahasa masing-masing yang dibantu oleh penerjemah.

Zelensky yang juga komedian memenangkan pemilihan presiden (pilpres) Ukraina pada Minggu (21/4/2019) dengan keunggulan telak dari lawannya sang petahana, Petro Poroshenko.

"(Didukung) 73 persen warga Ukraina, luar biasa. Saya merasa seperti Putin (Presiden Rusia) yang mendapat suara yang sama," canda Zelensky jadi-jadian itu dalam percakapan di telepon dengan pria bersuara Macron, dikutip dari AFP, Kamis (25/4/2019).

"Saya merasa, setidaknya sampai saat ini, bahwa sistem di tempat Anda sedikit kurang terorganisasi (ketimbang yang dilakukan Putin) dan itu membuat sedikit lebih alami. Anda belum memenjarakan semua lawan politik ke penjara," kata pria yang disebut sebagai Macron, menyindir Putin.

Sementara itu kantor presiden Prancis menolak mengomentari rekaman video itu. Namun mereka membenarkan bahwa Macron sudah berkomunikasi dengan Zalensky pada Minggu malam.

"Presiden tentu saja sudah berbicara dengan Zelensky pada Minggu malam, sebuah pembicaraan yang kemudian kami keluarkan dalam pernyataan, seperti dilakukan juga oleh pihak Zelensky. Kontak telah terjalin dengan baik antara presiden (Macron) dan rekannya dari Ukraina" bunyi pernyataan.

Sementara itu Vovan dan Lexus berharap Macron tidak marah.

Sebelumnya beberapa pesohor juga pernah menjadi korban mereka, seperti Elton John, mantan Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson, dan Presiden Belarus Alexander Lukashenko.


Editor : Anton Suhartono