Kota London Akan Cabut Penghargaan Aung San Suu Kyi Terkait Rohingya

Anton Suhartono ยท Jumat, 11 Januari 2019 - 20:31 WIB
Kota London Akan Cabut Penghargaan Aung San Suu Kyi Terkait Rohingya

Aung San Suu Kyi (Foto: AFP)

LONDON, iNews.id - Kota London, Inggris, bakal mengikuti jejak Oxford yang lebih dulu mencabut penghargaan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi terkait pembantaian muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine.

Pemerintah Kota London melalui badan pemerintah kota, City of London Corporation, akan menarik penghargaan kebebasan yang diberikan kepada Suu Kyi pada 2017.

Baca Juga: Krisis Rohingya, Oxford Tarik Penghargaan Aung San Suu Kyi

City of London Corporation menjelaskan, penarikan ini terkait dengan pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan terhadap etnis Rohingya.

"City of London Corporation mengutuk pelanggaran kemanusiaan mengejutkan yang dilakukan di Myanmar, dan telah menulis surat kepada Duta Besar untuk Myanmar untuk mengungkapkan keprihatinan yang mendalam tentang situasi saat ini di sana," bunyi pernyataan City of London Corporation, dikutip dari Anadolu, Jumat (11/1/2019).

Baca Juga: Lagi, Lembaga HAM Cabut Penghargaan Aung San Suu Kyi Terkait Rohingya

Badan tersebut juga akan menulis surat kepada Suu Kyi untuk meminta tanggapannya sebelum keputusan akhir dibuat.

PBB menyebut kekerasan terhadap etnis Rohingya sebagai pembersihan etnis yang melibatkan para pemimpin militer.

Baca Juga: Sekjen PBB Beri Peringatan Keras ke Aung San Suu Kyi soal Rohingya

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, mengungsi ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar menyiksa dan membantai kelompok minoritas itu sejak Agustus 2017.

Baca Juga: PBB: Kekerasan terhadap Muslim Rohingya Pelanggaran HAM Berat

Laporan Ontario International Development Agency (OIDA) berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terungkap' menyebut, sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 muslim Rohingya dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar.

Lebih dari 34.000 orang dibakar dan lebih dari 114.000 lainnya disiksa. Sekitar 18.000 perempuan anak-anak dan dewasa diperkosa oleh tentara dan polisi.

OIDA juga menyebut, lebih dari 115.000 rumah dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.


Editor : Anton Suhartono