Mahathir Mohamad Sebut Negara Barat Menderita akibat Corona karena Tak Disiplin

Anton Suhartono ยท Jumat, 17 April 2020 - 16:57 WIB
Mahathir Mohamad Sebut Negara Barat Menderita akibat Corona karena Tak Disiplin

Mahathir Mohamad (Foto: AFP)

KUALA LUMPUR, iNews.id -Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad memuji keberhasilan China dan Korea Selatan dalam menangani wabah virus corona.

Jumlah kasus infeksi dan kematian di kedua negara itu jauh di bawah negara maju lainnya, seperti Eropa dan Amerika Serikat.

Menurut pia 94 tahun itu, rahasia di balik kesuksesan China dan Korsel adalah kedisiplinan, namun hal ini tak dilakukan masyarakat Barat dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Budaya di China dan Korsel, lanjut Mahathir, berbeda dengan negara Barat. Hal ini karena warga di China dan Korsel disiplin dan patuh dengan pemerintah saat diberikan instruksi.

"Itulah mengapa kita bis melihat China dan Korea Selatan dapat menangani masalah dengan lebih baik karena orang-orang di sana mendengarkan. Tapi jika di Eropa, Anda melihat kadang-kadang mereka merasa lebih maju daripada negara lain dan memiliki fasilitas medis lebih baik sehingga mereka percaya dapat menanganinya,” kata pria berlatar belakang pendidikan dokter itu, dalam wawancara livestreaming melalui Facebook dengan Sunway Velocity Medical Centre, seperti dilaporkan kembali The Star, Jumat (17/4/2020).

Mahathir lalu mencontohkan kasus di Wuhan sebagai pusat epidemi, saat kota itu di-lockdown, warganya mengikuti perintah, sehingga mampu mengurangi jumlah korban yang terinfeksi.

Kondisi ini jauh berbeda dengan Eropa dan AS yang bahkan jumlah kasus infeksi dan kematian sudah melampaui China.

Posisi enam besar kasus infeksi Covid-19 saat ini, berdasarkan penghitungan Worldometer, secara berurutan dipegang AS, Sanyol, Italia, Prancis, Jerman Inggris. Kasus kematian terbesar di lima negara juga sudah melampaui China, kecuali Jerman.

Mahathir berpandangan, tingginya kasus di negara Barat juga dilatarbelakangi kebijakan pemerintah masing-masing yang cenderung memberikan kebebasan terhadap individu. Padahal penanganan wabah virus corona membutuhkan ketegasan pemerintah, khususnya dalam membatasi ruang gerak dan interaksi sosial warga.

"Mereka (Barat) membayar dengan harga sangat mahal. Di China, pemerintah memutuskan bahwa warga harus mematuhi hukum atau mereka akan dihukum. Tapi ketika kebebasan dipentingkan, maka aturan tidak akan dipatuhi dan kita akan menerima konsekuensinya," ujarnya.

Editor : Anton Suhartono