Mantan Putra Mahkota Sebut Rezim Iran Akan Runtuh Beberapa Bulan Mendatang

Nathania Riris Michico ยท Kamis, 16 Januari 2020 - 09:33 WIB
Mantan Putra Mahkota Sebut Rezim Iran Akan Runtuh Beberapa Bulan Mendatang

Reza Pahlavi, mantan pangeran mahkota Iran, berbicara tentang peristiwa terkini di negara itu di Institut Hudson di Washington. (Foto: AFP)

TEHERAN, iNews.id - Ahli waris monarki Iran, Reja Pahlevi, yang digulingkan bertahun-tahun memperkirakan bahwa rezim negara itu akan runtuh dalam beberapa bulan. Dia mendesak kekuatan Barat untuk tidak bernegosiasi dengan Iran.

Reza Pahlavi mengatakan bahwa aksi protes besar yang meletus pada November dan bulan ini setelah jatuhnya pesawat penumpang Ukraina, mengingatkannya pada pemberontakan yang menggulingkan ayahnya pada awal 1979.

"Hanya masalah waktu bagi ini (Iran) untuk mencapai klimaks terakhir. Saya pikir kita berada dalam jalan itu," kata mantan putra mahkota itu, dalam konferensi pers di Washington, tempat pengasingannya.

"Ini adalah pekan atau bulan sebelum keruntuhan total, tidak berbeda dengan tiga bulan terakhir pada 1978 sebelum revolusi," katanya, seperti dilaporkan AFP, Kamis (16/1/2020).

Para aktivis yang diasingkan juga kerap meramalkan jatuhnya rezim Iran.

Pahlavi mengatakan, "Iran dapat mencium peluang untuk pertama kalinya dalam 40 tahun saat ini."

Dalam pidatonya di Institut Hudson, Ahli waris berusia 59 tahun itu menyatakan dukungan kampanye tekanan maksimum Presiden Donald Trump yang berusaha mengisolasi rezim Iran melalui sanksi berat, dengan mengatakan bahwa negosiasi di masa lalu gagal.

"Sudah lama mengakui bahwa ini bukan rezim normal dan tidak akan mengubah perilakunya," kata Pahlavi.

"Rekan sebangsa saya mengerti bahwa rezim ini tidak dapat direformasi dan harus disingkirkan."

"Rakyat Iran berharap dunia menunjukkan lebih dari sekadar dukungan moral. Mereka berharap tidak akan dilempar ke bawah bus atas nama diplomasi dan negosiasi."

Trump sebelumnya berharap adanya negosiasi, tetapi baru-baru ini dia mengaku tidak peduli dengan pembicaraan dan memerintahkan pembunuhan seorang jenderal top Iran, Qasem Soleimani.

Pahlavi, yang ayahnya yang berorientasi Barat dan sangat dekat dengan Amerika Serikat, ragu akan ada prospek untuk kembalinya monarki.

Dia mengatakan sebaliknya, bahwa dia ingin mendukung koalisi Iran yang akan menggantikan rezim dengan demokrasi sekuler.

Ditanya apakah dia bisa mewakili semua orang Iran, Pahlavi berkata: "Ini bukan tentang saya, ini tentang orang-orang Iran."

"Anda mungkin tidak suka pengirim pesan, tetapi adakah yang salah dengan pesannya?"

Editor : Nathania Riris Michico