Marah soal Dana Perbatasan, Trump Tinggalkan Pertemuan dengan Demokrat

Nathania Riris Michico ยท Kamis, 10 Januari 2019 - 08:47 WIB
Marah soal Dana Perbatasan, Trump Tinggalkan Pertemuan dengan Demokrat

Presiden AS Donald Trump (Foto: FREDERIC J. BROWN/AFP/Getty Images)

WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meninggalkan pertemuan dengan para petinggi Partai Demokrat saat negosiasi mengenai penutupan sejumlah lembaga pemerintahan tengah berlangsung.

Trump, sebagaimana dipaparkan Ketua Fraksi Demokrat di Senat, Chuck Schumer, bangkit berdiri dan pergi begitu saja ketika Ketua DPR, Nancy Pelosi, menyatakan tidak akan menyetujui pendanaan proyek tembok perbatasan.

Sebelumnya Trump berkeras bakal menyetujui rencana anggaran dana operasional untuk sejumlah lembaga pemerintahan jika mencakup anggaran dana 5,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp80,5 triliun untuk membangun barikade baja.

"Dia bertanya kepada Ketua DPR, Pelosi, 'Apakah Anda akan menyetujui tembok saya?' Dia (Pelosi) berkata tidak."

"Dan dia (Trump) langsung berdiri dan berkata, 'Tiada yang perlu kita diskusikan'. Kemudian dia langsung berjalan keluar," papar Schumer, seperti dilaporkan BBC, Kamis (10/1/2019).

"Lagi-lagi kita melihat tingkah merajuk karena dia tidak mendapat apa yang dia inginkan."

Schumer menambahkan, Trump sempat menggebrak meja sebelum keluar dari ruang rapat di Gedung Putih.

Namun, anggota Kongres dari Partai Republik, Steve Scalise, membantah. Menurutnya, tidak ada orang yang menggebrak meja saat itu.

Wakil Presiden Mike Pence menuturkan kepada para wartawan bahwa dirinya kecewa terhadap Partai Demokrat.

"Mereka tidak bersedia terlibat dalam negosiasi dengan iktikad baik," katanya.

Adapun Kevin McCarthy selaku ketua fraksi Republik di DPR, menyebut perilaku petinggi Partai Demokrat memalukan.

Setelah pertemuan dengan Schumer dan Pelosi berlangsung, Trump menyebut tatap muka tersebut benar-benar buang waktu.

Dalam cuitannya, dia mengaku mengatakan "bye-bye" kepada kedua petinggi Demokrat itu.

Penutupan sebanyak sembilan lembaga pemerintahan AS sudah berlangsung selama 19 hari. Akibatnya, sekitar 800.000 pegawai negeri sipil tidak digaji dan layanan di sembilan lembaga tersebut praktis dihentikan.

Di media sosial, sejumlah pegawai negeri membagikan cerita mereka yang sulit membayar tagihan dan kesulitan lainnya akibat penutupan lembaga pemerintah. Beberapa kini mempertimbangkan untuk mencari kerja lain agar keperluan sehari-hari bisa tercukupi.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan sebanyak 51 persen rakyat AS menyalahkan Presiden Trump atas penutupan lembaga pemerintahan. Namun, 77 persen pemilih Partai Republik mendukungnya atas proyek pembangunan tembok perbatasan.


Editor : Nathania Riris Michico