Marak, Laki-Laki Papua Nugini Tertipu Tawaran Perbesar Alat Kelamin

Anton Suhartono ยท Sabtu, 13 April 2019 - 19:23:00 WIB
Marak, Laki-Laki Papua Nugini Tertipu Tawaran Perbesar Alat Kelamin
Dokter di Papua Nugini memperingatkan adanya masalah nasional terkait fenomena memperbesar alat kelamin laki-laki (Ilustrasi, Foto: AFP)

PORT MORESBY, iNews.id - Para dokter di Papua Nugini menyampaikan kekhawatiran mengenai banyaknya laki-laki di negara itu yang mengalami masalah dengan alat kelamin. Bahkan dokter menyebut kondisi ini sebagai masalah nasional.

Banyak pria menyuntikkan zat asing, seperti minyak kelapa dan silikon, ke penis mereka dengan tujuan membuat lebih besar.

Dokter ahli bedah Rumah Sakit Umum Port Moresby, Akule Danlop, mengatakan, dalam 2 tahun terakhir tempatnya merawat sedikitnya 500 laki-laki karena mengalami cacat dan disfungsi alat kelamin dampak dari suntikan tersebut.

“Saya mendapati lima kasus baru setiap pekan selama 2 tahun terakhir dan mereka datang untuk menjalani perawatan lebih lanjut. Kami tidak tahu ada berapa banyak lagi di luar sana," kata Danlop, dikutip dari South China Morning Post, Sabtu (13/4/2019).

Selain minyak kelapa dan silikon, lanjut dia, zat yang disuntikkan adalah baby oil dan minyak goreng. Efek sampingnya sangat serius, bahkan tak dapat disembuhkan.

“Sebagian besar dari mereka memiliki berat badan tidak normal serta ada gumpalan di atas penis dan kadang-kadang buah zakar. Banyak pula yang datang dalam kondisi borokan yang terbuka lebar," tuturnya.

Keluhan lain, lanjut Danlop, mereka kesulitan buang air kecil karena bagian kulupnya mengalami bengkak sehingga tidak bisa kontraksi.

Danlop telah mengoperasi sekitar 90 orang untuk mengatasi pembengkakan serta memperbaiki kerusakan pada otot ereksi.

Sekalipun sembuh, terkadang pasien mengalami masalah ereksi setelah operasi.

"Mereka menyesali apa yang telah dilakukan," kata Danlop.

Para pasien menjangkau semua kelompok sosial dan berusia rata-rata antara 18 dan 40 tahun. Bahkan dia pernah menangani pasien berusia 16 tahun dan di atas 55 tahun.

"Ada orang-orang yang dengan profesi terhormat seperti bekerja di firma hukum," katanya.

Para pasien nekat meneriwa tawaran memperbesar alat kelamin karena ingin merasakan pengalaman seksual lebih baik dengan pasangan.

"Alasan yang mereka katakan adalah menambah panjang dan ketebalan untuk meningkatkan pengalaman seksual mereka dengan pasangan," kata Danlop.

Glen Mola, seorang profesor kesehatan reproduksi, kebidanan, dan ginekologi Universitas PNG, mengatakan, para pasien ditipu hingga tertarik melakukan praktik berbahaya ini oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

“Banyak pria muda yang ditipu, membayar sejumlah uang agar diperbesar hingga mengalami luka cukup serius," ujarnya.

Mola mengatakan, kasus ini bahkan melibatkan petugas kesehatan. Mereka lah yang menyuntikkan zat asing itu tanpa memiliki pengetahuan tentang dampaknya.

“Saya rasa ini perawat laki-laki. Orang-orang ini tentu saja melakukannya di luar lisensi. Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan rutin mereka. Mereka ingin mendapat uang sampingan," ujarnya.

Editor : Anton Suhartono

Bagikan Artikel: