Mulai 1 Januari 2020, Toko dan Tempat Usaha di Saudi Boleh Buka 24 Jam

Anton Suhartono ยท Selasa, 31 Desember 2019 - 21:05 WIB
Mulai 1 Januari 2020, Toko dan Tempat Usaha di Saudi Boleh Buka 24 Jam

Aktivitas bisnis di pertokoan Mekkah saat musim haji (Foto: AFP)

RIYADH, iNews.id - Arab Saudi mengeluarkan aturan baru per 1 Januari 2020. Toko-toko dan tempat bisnis lainnya diperbolehkan buka selama 24 jam.

Langkah ini merupakan bagian dari rencana reformasi di bidang perekonomian Saudi setelah tak lagi mengandalkan minyak.

"Mengizinkan kegiatan komersial beroperasi 24 jam selama 7 hari akan berkontribusi dalam menyediakan komoditas dan layanan kepada warga sepanjang waktu dan akan meningkatkan kualitas kehidupan di perkotaan," kata Majed Al Qasabi, penjabat Menteri Urusan Kota dan Perdesaan, dikutip dari The National, Selasa (31/12/2019).

Pemilik usaha harus mengajukan izin ke pemerintah kota setempat agar bisa buka 24 jam.

Untuk mendapat izin, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Di antaranya, pemilik usaha harus membayar sekitar 100.000 riyal atau sekitar Rp370 juta. Selain itu, mereka harus memasang CCTV di lokasi.

Namun apotek, pom bensin, hotel, dan resor, dikecualikan dari persyaratan ini.

Keputusan itu disahkan oleh Kabinet Saudi pada  Juli lalu, namun membutuhkan persetujuan dari Departemen Urusan Kota dan Perdesaan.

Belum diketahui apakah aturan harus menutup tempat usaha selama jam salat yakni lima kali sehari tetap berlaku atau ikut direvisi.

Sejak 2016, Putra Mahkota Pengeran Mohammed bin Salman mendorong reformasi sosial dan ekonomi sebagai bagian dari rencana memodernisasi kerajaan dan menarik investasi asing.

Hussein Ibish, pengamat dari Institut Negara-Negara Teluk di Washington, Amerika Serikat, mengatakan reformasi menjadi sangat populer di Saudi, terutama di kalangan muda.

"Mohammed bin Salman merupakan orang muda yang dalam banyak hal mewujudkan perubahan yang diperlukan dalam politik dan norma," katanya.

Kawasan, lanjut dia, akan terus memandang Arab Saudi sebagai negara terdepan yang modern namun tetap memegang teguh tradisi ke-Arab-an. Pemain lain yakni Mesir, Irak, dan Suriah, tidak dalam kondisi yang baik dalam memainkan peran seperti yang biasa mereka lakukan.

"Peran ini terutama dimainkan oleh sejumlah negara Teluk Arab, terutama Arab Saudi dan juga Uni Emirat Arab," ujar Ibish.


Editor : Anton Suhartono