Orang Terkaya Hong Kong Li Ka Shing: Saya Khawatir jika Demonstrasi Berlanjut

Anton Suhartono ยท Selasa, 10 September 2019 - 12:50 WIB
Orang Terkaya Hong Kong Li Ka Shing: Saya Khawatir jika Demonstrasi Berlanjut

Li Ka Shing (Foto: AFP)

HONG KONG, iNews.id - Orang terkaya Hong Kong Li Ka Shing mendesak pemerintah dan demonstran berdamai untuk mengakhiri mimpi buruk yang membuat wilayah itu jatuh ke posisi terendah sejak diserahkan dari Inggris ke China pada 1997.

Li juga meminta pemerintah lebih memiliki belas kasihan kepada para demonstran yang sebagian besar merupakan orang muda.

"Jika ini berlanjut maka akan sangat buruk, dan saya sangat mengkhawatirkannya," kata pria 91 tahun itu, dikutip dari Bloomberg, Selasa (10/9/2019).

"Kami berharap orang-orang muda dapat melihat gambaran besar, dan para pemimpin pemerintahan dapat berbelas kasih kepada orang-orang yang akan menjadi masa depan kita," ujarnya, menambahkan.

Li termasuk pengusaha yang rajin meningatkan semua pihak terkait kondisi Hong Kong 3 sampai 4 bulan terakhir. Bahkan dia pernah membuat iklan di surat kabar pada bulan lalu, menyerukan diakhirinya kekerasan.

Iklan itu berisi pesan puitis yang ditafsirkan oleh beberapa orang sebagai seruan agar pihak berkuasa menghentikan penganiayaan. Di sisi lain tulisan itu juga dimaksudkan mendesak demonstran agar berhenti mengacaukan Hong Kong.

Meskipun pemimpin Hong Carrie Lam sudah mengumumkan dicabutnya RUU ekstradisi, pemicu awal aksi unjuk rasa besar-besaran, para aktivis tetap turun ke jalan.

Aktivis prodemokrasi Hong Kong Joshua Wong belum puas dengan keputusan yang diambil Lam.

"Terlalu sedikit, terlalu terlambat. Kami juga mendesak dunia internasional untuk memperingatkan taktik ini dan tidak tertipu oleh Pemerintah Hong Kong dan Beijing. Mereka sebenarnya tidak mengakui apa-apa, dan aksi dalam skala penuh sedang dilakukan," kata Joshua.

Pada Sabtu pekan lalu, mereka bahkan memblokir akses menuju bandara meskipun tak sampai menghentikan penerbangan.

Lalu pada Minggu, demonstran melakukan pembakaran, merusak stasiun kereta bawah tanah, dan mamasang barikade di pusat kota setelah mendatangi Konsulat Amerika Serikat untuk meminta bantuan Donald Trump.

Satu tuntutan yakni pencabutan RUU memang sudah dipenuhi, namun ada empat tuntutan lainnya yang diminta demonstran, yakni penyelidikan independen terhadap polisi, pengampunan dan pembebasan bagi siapa pun yang ditangkap, pencabutan label "perusuh" untuk menggambarkan para demonstran, dan digelarnya pemilu yang demokratis di mana warga Hong Kong bisa menentukan sendiri pemimpin mereka, bukan boneka China.

Sejauh ini Lam menolak empat tuntutan lainnya, meskipun banyak yang mengatakan bahwa dia mendukung penyelidikan independen.

Editor : Anton Suhartono