Parlemen Inggris Setujui Amandemen untuk Tunda Brexit

Nathania Riris Michico ยท Minggu, 20 Oktober 2019 - 10:46 WIB
Parlemen Inggris Setujui Amandemen untuk Tunda Brexit

Bendera Uni Eropa (kiri) dan Inggris Raya (kanan). (FOTO: AFP / Tolga AKMEN)

LONDON, iNews.id - Anggota parlemen Inggris memberi pukulan telak di menit-menit terakhir pada Sabtu (19/10/2019), dengan menyetujui amandemen yang menunda Brexit sampai undang-undang terkait penarikan diri negara itu dari Uni Eropa disahkan.

Anggota parlemen memutuskan dengan 322 suara untuk mendukung langkah yang diajukan oleh mantan menteri kabinet Oliver Letwin.

Amandemen ini menunda keputusan apakah akan mendukung kesepakatan Brexit; dan secara efektif memaksa Perdana Menteri (PM) Boris Johnson meminta perpanjangan ketiga kalinya keluar dari Uni Eropa.

Keputusan tersebut merupakan kemunduran besar bagi PM Johnson, yang mengatakan kepada anggota parlemen segera setelah pemungutan suara bahwa pemerintah akan memperkenalkan undang-undang yang diperlukan pekan depan.

"Saya tidak akan menegosiasikan penundaan dengan Uni Eropa dan aturan hukum juga tidak memaksa saya untuk melakukan itu," tandasnya, seperti dilaporkan Deutsche Welle, Minggu (20/10/2019).

Oposisi desak perdana menteri patuhi hukum

Pemimpin oposisi Jeremy Corbyn menjawab bahwa PM Johnson kini harus mematuhi hukum dan meminta perpanjangan waktu untuk Brexit.

Bulan lalu, para anggota parlemen menyetujui undang-undang yang secara eksplisit memaksa PM Johnson mengirim surat penundaan ke Uni Eropa jika kesepakatan Brexit-nya tidak disetujui pada Sabtu kemarin.

Sebelumnya Johnson sudah mencapai kesepakatan yang direvisi dengan Brussels pada Kamis lalu.

Boris Johnson berusaha keras memenangkan dukungan untuk pakta Brexit terbaru yang dia buat di Brussels, di mana Inggris dan Uni Eropa menyetujui syarat-syarat perjanjian baru.

Berbicara kepada anggota parlemen di majelis rendah, Johnson mengatakan mereka memiliki kesempatan bersejarah untuk mendukung "jalan baru ke depan" bagi Inggris dan Uni Eropa.

"Saya berharap bahwa ini adalah saat ketika kita akhirnya dapat mencapai resolusi itu dan mendamaikan naluri yang bersaing dalam diri kita," katanya.

"Sekarang adalah waktunya bagi majelis rendah yang luar biasa ini untuk berkumpul dan mempersatukan masyarakat."

Namun pemimpin oposisi dari Partai Buruh Jeremy Corbyn mendesak para anggota parlemen untuk tidak mendukung kesepakatan itu, dengan mengatakan hal itu akan membahayakan pekerjaan, lingkungan, dan pelayanan kesehatan Inggris.

Sementara itu, puluhan ribu demonstran anti-Brexit berkumpul di London untuk menuntut referendum.

Menjauhkan dari Uni Eropa

Pendahulu Johnson, Theresa May, gagal pada tiga kesempatan untuk mendapatkan persetujuan yang disahkan oleh parlemen. Berbeda dengan pakta buatan Theresa May, kesepakatan yang dirangkai Boris Johnson semakin menjauhkan Inggris dari Uni Eropa.

Atas dasar ini, ekonom mewanti-wanti terhadap dampak negatif pakta Brexit teranyar. Seperti dilansir The Guardian, studi terakhir memprediksi penghasilan tahunan semua warga Inggris akan terpangkas sebesar 2.000 Pounds atau sekitar Rp13 juta jika Brexit versi Boris jadi kenyataan.

Pemungutan suara Sabtu ini terhitung tiga tahun setelah hasil pemungutan suara menunjukkan 52 persen warga Inggris memilih menjadi negara berdaulat pertama yang meninggalkan Uni Eropa.

Pertemuan di majelis rendah ini adalah pertemuan akhir pekan pertama Parlemen Inggris sejak invasi Falklands pada 1982.

Editor : Nathania Riris Michico