Pascakebakaran, Warga Paris dan Turis Berbondong-bondong ke Notre Dame

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 17 April 2019 - 14:46 WIB
Pascakebakaran, Warga Paris dan Turis Berbondong-bondong ke Notre Dame

Puing-puing di dalam Katedral Notre-Dame, Paris, pada 16 April 2019, sehari setelah kebakaran. (FOTO: CHRISTOPHE PETIT TESSON / POOL / AFP)

PARIS, iNews.id - Hanya beberapa hari lalu, Severine Vilbert berjalan-jalan di sekitar Notre Dame dengan putri sulungnya di hari yang dingin namun cerah. Bunga-bunga bermekaran dan katedral berkilau cahaya.

"Kami memandang Notre Dame dan mengatakan monumen yang begitu indah, betapa bangganya menjadi orang Paris dan tinggal di kota yang indah ini,” kenang Vilbert, yang bercucuran airmata, seperti dilaporkan Associated Press, Rabu (17/4/2019).

"Kemudian seperti mimpi buruk bagi kami."

Pada Selasa (16/4), Vilbert menelusuri langkahnya kembali di Paris yang sudah berubah. Tetes hujan jatuh dari langit yang kelabu, ketika dia bergabung bersama ribuan warga Paris dan wisatawan yang mengunjungi bangunan terkenang yang masih berasap namun masih berdiri.

Api yang menjilat katedral berumur lebih dari 850 tahun itu menghancurkan sebagian besar atap. Puncaknya pada ketinggian 90 meter runtuh di tengah kobaran api, menyebabkan pengunjung yang sedang berswafoto terperangah.

Para penyelidik kini masih menyelidiki sebab-sebab kebakaran yang untuk sementara tampaknya dianggap sebagai kecelakaan.

"Saya umat Kristen. Saya seorang Katolik. Saya kira kejadian ini sangat mengerikan," kata George Castro, seorang warga Perancis- Kolombia, mengenai kobaran api yang terjadi hanya sepekan sebelum Paskah.

"Ini benar-benar menyedihkan."

Namun yang menakjubkan, tidak ada korban tewas dan benda-benda berharga berhasil diselamatkan, bersama jendela mawar Notre Dame yang menakjubkan. Laporan, mengutip para pakar, menyebut secara struktural bangunan itu masih baik.

Kebakaran itu merupakan peristiwa terbaru di salah satu kota paling indah di dunia. Selama beberapa tahun terakhir, Paris mengalami dua serangan teroris besar yang terjadi pada 2015.

Dan yang terbaru adalah krisis rompi kuning yang merusak beberapa monumen paling bergengsi dan sangat memecah warga Perancis.

Beberapa warga Paris, seperti Nicolas Chouin, yakin kebakaran itu bisa membantu merekonsiliasi Prancis yang terpecah.

"Sesuatu yang di luar jangkauan kita, di luar masalah kita sehari-hari," katanya sambil memandang kerangka atap katedral.

"Namun, tentu saja tidak menyelesaikan semua masalah politik."


Editor : Nathania Riris Michico