Pascaserangan Drone, Produksi Minyak Arab Saudi Kini Kembali Normal

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 04 Oktober 2019 - 07:42 WIB
Pascaserangan Drone, Produksi Minyak Arab Saudi Kini Kembali Normal

Menteri Energi Kerajaan Pangeran Abdulaziz Bin Salman saat diskusi di Pekan Energi Rusia. (FOTO: istimewa)

MOSKOW, iNews.id - Produksi minyak Arab Saudi sudah kembali ke tingkat normal, seperti sebelum fasilitas minyak utamanya diserang drone. Hal itu disampaikan Menteri Energi Kerajaan Pangeran Abdulaziz Bin Salman, Kamis (4/10/2019) pada hari ketiga Pekan Energi Rusia.

"Kami bahkan melampaui 9,9 juta barel per hari (bph) kapasitas produksi yang stabil, kami berada pada 11,3 juta barel per hari dan seperti yang telah kami katakan sebelumnya pada akhir November, kami akan kembali beroperasi," kata Pangeran Abdulaziz.

Serangan 14 September di fasilitas pemrosesan minyak utama Saudi, Aramco di Abqaiq dan Khurais, menyebabkan pasokan sekitar 5,7 juta barel minyak mentah per hari -sekitar lima persen dari pasokan global- terhentu sementara.

Pemerintahan Informasi Energi Amerika Serikat (AS) memperkirakan Saudi memproduksi 9,9 juta barel per hari minyak mentah pada Agustus.

"Dengan perjanjian kami dengan OPEC +, kami seharusnya memproduksi 10,3 juta barel per hari, kami memilih secara sukarela mengurangi produksi minyak kami ke level yang lebih rendah dari itu," ujar dia.

OPEC dan produsen sekutu yang dipimpin oleh Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC +, setuju pada tahun lalu untuk memotong pasokan minyak sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) guna mendukung harga minyak. Pemotongan harga ini mulai berlaku pada 1 Januari.

"Saya ingin melanjutkan, di industri energi di Arab Saudi, kami punya beberapa tantangan, kami sudah mendapatkan IPO dan kami ingin memastikan itu adalah IPO yang sukses," tutur Pangeran Abdulaziz.

Para pemimpin energi dari seluruh dunia bertemu di Moskow selama sepekan untuk membahas berbagai hal, mulai dari prospek energi global hingga tantangan dalam pengembangan energi terbarukan.

Pada hari kedua Pekan Energi Rusia, panel fitur tentang menjaga konektivitas energi di dunia yang tidak stabil disoroti oleh Pangeran Abdulaziz.

"Ada beberapa kekhawatiran tentang kekuatan resesi yang terlihat, namun itu adalah gambaran suram yang sudah terlihat di mana orang menambahkan lebih banyak api ke rasa skeptis tentang masa depan. Satu-satunya cara mengatasi persepsi negatif ini adalah resolusi cepat untuk masalah perdagangan," kata Pangeran Abdulaziz.

"Dengan perjanjian kami dengan OPEC + kami seharusnya memproduksi 10,3 juta barel per hari, kami memilih untuk secara sukarela mengurangi produksi minyak kami ke tingkat yang lebih rendah dari itu," ujar dia, menambahkan.

Pangeran Abdulaziz mengatakan bahwa aliansi OPEC +, kelompok negara-negara OPEC dan non-OPEC berkomitmen, mempertahankan pemotongan pasokan minyak untuk mendukung harga, karena sudah melampaui aturan sementara dan menuju ke hubungan jangka panjang.

"Kami sekarang melampaui aturan sementara dan menuju ke hubungan jangka panjang antara negara-negara OPEC dan non-OPEC," kata Pangeran Abdulaziz.

"Kami memperhatikan tanggung jawab kami terhadap konsumen kami."

Pangeran Abdulaziz memulai diskusi utamanya di Russia Energy Week pada Rabu lalu, dan memuji perjanjian OPEC +, serta aliansi energi strategis antara Arab Saudi dan Rusia.

"Kami bersekutu karena ada banyak alasan dalam aliansi kami," tandasnya.


Editor : Nathania Riris Michico