Paus Fransiskus Minta Para Wartawan Tak Menulis Berita Palsu

Nathania Riris Michico ยท Minggu, 19 Mei 2019 - 14:37 WIB
Paus Fransiskus Minta Para Wartawan Tak Menulis Berita Palsu

Paus Fransiskus. (FOTO: AFP)

VATIKAN, iNews.id - Paus Fransiskus mendesak para wartawan untuk berhenti mempublikasikan berita-berita palsu. Dia menyebut hal itu dapat membahayakan, dan sebagai gantinya berharap para wartawan meluangkan waktu untuk memahami masalah-masalah sebelum melaporkannya.

Saat menerima wartawan asing di Vatikan, Paus juga mendesak para jurnalis untuk tetap "rendah hati".

"Kerendahan hati mencegah aliran disinformasi busuk dan menawarkan kebenaran yang benar," kata dia, seperti dilaporkan AFP, Minggu (19/5/2019).

"Kerendahan hati sangat penting karena menyiratkan kesadaran bahwa melalui sebuah artikel, cuitan, siaran langsung baik di televisi atau di radio dapat berbuat baik, tetapi juga jika seseorang tidak penuh perhatian dan tidak teliti, itu membahayakan," ujar Paus Fransiskus.

Dia juga mengatakan wartawan harus sangat berhati-hati dengan pilihan kata-kata mereka di era bahasa yang berisi nada kebencian, yang saat ini berkembang biak di mana-mana, terutama di media sosial.

"Semua orang tahu bagaimana mencari kebenaran itu sulit dan menuntut kerendahan hati," katanya.

Dia juga meminta pers untuk berbicara tentang "perang" yang dilupakan oleh masyarakat.

"Siapa yang masih berbicara tentang Rohingya?" kata dia.

"Siapa yang masih berbicara tentang Yazidi? Mereka dilupakan dan mereka terus menderita."

Sekitar 740.000 minoritas Muslim Rohingya melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh sejak tindakan keras militer yang brutal dimulai pada Agustus 2017.

Ribuan pengungsi berusaha melarikan diri dari kamp-kamp Bangladesh setiap tahun untuk mencari peluang hidup yang lebih baik di negara-negara seperti Malaysia dan Thailand.

Mereka sering menghabiskan tabungan untuk melakukan perjalanan berbahaya di lautan yang mereka yakini akan meningkatkan taraf hidup. Namun banyak yang menjadi mangsa geng perdagangan manusia internasional.

Komunitas Yazidi pernah berjumlah sekitar 500.000 anggota di wilayah pegunungan Sinjar di barat laut Irak, namun mereka 'terkoyak' oleh munculnya ISIS pada 2014 ke wilayah tersebut.

Para jihadis membunuh pria Yazidi, memaksa anak laki-laki untuk bergabung dengan barisan mereka sebagai pejuang, dan menculik dan memenjarakan ribuan perempuan Yazidi sebagai budak seks.

Editor : Nathania Riris Michico