Pelajar di Inggris Bolos Sekolah demi Aksi Protes Perubahan Iklim

Nathania Riris Michico ยท Minggu, 17 Februari 2019 - 10:14 WIB
Pelajar di Inggris Bolos Sekolah demi Aksi Protes Perubahan Iklim

Siswa yang bolos demi aksi protes di Inggris. (foto: AFP/GETTY IMAGES)

LONDON, iNews.id - Pelajar di seluruh Inggris "mogok sekolah" pada Jumat (15/2) sebagai bagian dari kampanye global untuk aksi perubahan iklim.

Siswa di seluruh negeri turun ke jalan dan menuntut pemerintah mengumumkan keadaan darurat iklim dan mengambil langkah-langkah aktif untuk mengatasi masalah tersebut.

Penyelenggara Youth Strike 4 Climate mengatakan, aksi ini terjadi di lebih dari 60 kota besar dan kecil, dengan sekitar 15.000 orang ambil bagian. Mereka membawa plakat, beberapa di antaranya tertulis: "Tidak ada planet B".

Aksi demo ini merupakan bagian dari gerakan global yang jauh lebih luas, yang dikenal sebagai Aksi Iklim Sekolah 4.

Gerakan ini dimulai saat seorang remaja Swedia, Greta Thunberg yang berusia 15 tahun, membolos sekolah untuk melakukan aksi di luar gedung pemerintah pada September silam, menuduh negaranya tidak mengikuti Perjanjian Iklim Paris.

Sejak itu, puluhan ribu anak di Belgia, Jerman, Swedia, Swiss, dan Australia terinspirasi untuk menggelar demonstrasi mereka sendiri.

Protes terbesar diadakan di London, Brighton, Oxford dan Exeter, kata Jaringan Iklim Pelajar Inggris. Kelompok itu, yang membantu mengoordinasikan protes, memiliki empat tuntutan utama, yakni :

- Pemerintah harus mendeklarasikan "darurat iklim"
- Pemerintah juga harus menginformasikan kepada publik tentang situasi yang serius ini
- Kurikulum nasional harus direformasi untuk memasukkan "krisis ekologis"
- Usia pemungutan suara harus diturunkan menjadi 16 tahun sehingga orang yang lebih muda dapat terlibat dalam pengambilan keputusan seputar masalah lingkungan.

Greta mencuit tentang protes di Inggris di akun Twitter-nya.

"PM Inggris mengatakan bahwa anak-anak yang mogok sekolah 'membuang-buang waktu pelajaran'. Itu bisa jadi masalah. Tapi sekali lagi, para pemimpin politik menyia-nyiakan 30 tahun tidak bertindak. Dan itu sedikit lebih buruk," cuitnya.

Seorang juru bicara Downing Street mengatakan, meskipun penting bagi kaum muda untuk terlibat dengan isu-isu seperti perubahan iklim, gangguan terhadap waktu pelajaran yang direncanakan merugikan bagi siswa.

Asosiasi Kepala Sekolah Nasional mengatakan tidak memaafkan anak-anak yang tidak masuk sekolah untuk mengambil bagian dalam aksi itu.

"Tidak ada yang lebih penting daripada pendidikan anak".

Namun, Menteri Energi Claire Perry mengatakan dia "sangat bangga" dengan semangat dan kepedulian kaum muda.

"Saya curiga jika ini terjadi 40 tahun yang lalu, saya akan berada di sana juga," kata, kepada BBC.

Di London, Christina yang berusia 15 tahun mengatakan masalah itu terlalu besar untuk diabaikan.

"Banyak dari kita adalah siswa yang sangat baik, taat, tetapi ketika terkait dengan perubahan iklim, itu sangat penting," katanya.

"Para pemuda di zaman kita cenderung terdorong ke satu sisi. Kita sering diam tetapi ketika menyangkut perubahan iklim kita harus membayar kesalahan generasi yang lebih tua."

Scarlet (15) dari Suffolk, adalah bagian dari Jaringan Iklim Pelajar Inggris.

"Kami ingin pemerintah Inggris mengumumkan keadaan darurat iklim dan melakukan langkah-langkah untuk mencapai keadilan iklim, memprioritaskan ini di atas segalanya. Kami menuntut pemerintah mendengarkan kami dan kami akan terus melakukan aksi sampai mereka melakukannya," ujar dia.

"Ini bukan tentang perubahan perilaku lagi; itu harus tentang perubahan sistem."


Editor : Nathania Riris Michico