Pemimpin Hong Kong Carrie Lam Pidato Live di Facebook, Netizen Banjiri dengan Emoji Marah

Anton Suhartono ยท Sabtu, 19 Oktober 2019 - 11:52 WIB
Pemimpin Hong Kong Carrie Lam Pidato Live di Facebook, Netizen Banjiri dengan Emoji Marah

Carrie Lam (Foto: AFP)

HONG KONG, iNews.id - Pemimpin Hong Kong Carrie Lam terus berupaya menarik perhatian warganya di tengah gelombang aksi unjuk rasa prodemokrasi yang sudah berlangsung sejak Juni 2019.

Upaya terbarunya adalah menyampaikan pidato dan tanya jawab melalui livestreaming di Facebook menyerukan kepada semua pihak untuk mengedepankan dialog demi mencari solusi bagi Hong Kong. Namun pidatonya itu justru mendapat lebih banyak kemarahan ketimbang respons postif.

Lam merupakan pemimpin Hong Kong dengan tingkat kepercayaan terburuk dibandingkan dengan pemimpin sebelumnya, dipicu oleh keputusan pemerintah untuk mengajukan RUU ekstradisi yang memungkinkan para penjahat kota itu diadili di China serta wilayah lain yang menjalin perjanjian.

Pemerintahannya juga menolak memenuhi tuntutan pengunjuk rasa untuk dibukanya kebebasan demokrasi melalui pemilihan pemimpin Hong Kong secara langsung, bukan ditunjuk oleh China.

Selain itu Lam dituntut untuk mengungkap kasus kekerasan yang dialami pengunjuk rasa oleh polisi serta membebaskan para aktivis yang ditahan sejak Juni lalu.

Dalam pidato dan tanya jawab live selama skitar 1 jam itu, jumlah warganet yang tidak menyukainya jauh lebih banyak ketimbang yang suka. Belum lagi komentar pedas yang disampaikan di kolom komentar.

Sampai akhir penampilannya, jumlah emoji yang menunjukkan wajah marah lebih dari 9.400 dibandingkan dengan 2.100 tanda suka dan 632 tanda hati.

Pidato Lam itu berbuah respons negatif karena dia mengulangi pembahasan yang sebenarnya tak memuasakan warga, yakni seputar dialog dan komunikasi.

"Kita membutuhkan dialog dan komunikasi yang lebih banyak serta saling pengertian dan toleransi. Saya terkejut oleh demonstrasi besar ini. Tidak ada yang bisa memprediksi bahwa kita akan menghadapi badai besar," katanya, seperti dilaporkan kembali AFP, Sabtu (19/10/2019).

Lam memang sudah membatalkan RUU ekstradisi, inti dari tuntutan yang menjadi pemicu aksi demonstrasi besar-besaran melibatkan jutaan warga. Namun tuntutan semakin meluas terkait dengan penegakan demokrasi.

Sebelumnya, Lam pernah menyatakan kesediaan untuk berdialog dengan masyarakat. Pada akhir September, dia berdialog dengan sekitar 150 masyarakat yang dipilih secara acak, di mana mereka bisa menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kritis.

Editor : Anton Suhartono