Pengakuan Anak-Anak Teroris ISIS Australia: Kami Cuma Ingin Pulang

Nathania Riris Michico ยท Selasa, 16 April 2019 - 12:02 WIB
Pengakuan Anak-Anak Teroris ISIS Australia: Kami Cuma Ingin Pulang

Humzeh, Hoda dan Zaynab Sharrouf, bersana anak-anak Zaynab dan seorang wanita Australia bersama anaknya. (FOTO: ABC News/David Maguire)

SYDNEY, iNews.id - Anak-anak teroris ISIS bernama Khaled Sharrouf asal Australia, yang kini berada dalam kamp pengungsi di Suriah, menyatakan ingin pulang ke negaranya. Mereka mengaku bukanlah ancaman bagi masyarakat Australia.

Khaled dan dua anak laki-lakinya tewas beberapa tahun lalu. Kini anak perempuannya Zaynab (17) dan Hoda (15), serta anak laki-laki lainnya Humzeh (8) mendekam dalam kamp pengungsi Al Hawl.

Anak-anak ini dibawa ke Suriah untuk bergabung dengan "kekhalifahan" ISIS oleh ibu mereka yang merupakan istri Khaled, Tara Nettleton, pada Februari 2014.

Saat program Four Corners ABC menemui mereka di tenda tempat tinggalnya, di sana ada pula seorang perempuan Australia lain bersama anaknya.

"Saya hanya ingin keluar dari sini," ujar Zaynab, yang sudah memiliki dua anak, seperti dilaporkan ABC News, Selasa (16/4/2019).

"Kami sudah lama ingin pulang, tapi kami takut," katanya.

Humzeh Sharrouf (8 tahun) di kamp pengungsi al-Hawl Suriah. (ABC News: David Maguire)

Kini, Zaynab sedang hamil tujuh setengah bulan dan didiagnosa menderita disentri dan anemia berat sejak tiba di Al Hawl tiga pekan lalu.

Zaynab mengaku sudah lama ingin melarikan diri dari ISIS, tapi dia mengaku cemas karena tak pernah mendengar kabar dari mereka yang sudah pergi.

"Mereka pergi dan kabar mereka tak terdengar lagi," katanya.

"Orang diperkosa, disiksa. Mereka ditangkap. Itu sebabnya kami tak pernah bisa pergi," tambahnya.

Humzeh saat masih tinggal di wilayah ISIS beberapa tahun lalu. (foto: doc. ABC News/Supplied)

Nenek anak-anak ini, Karen Nettleton, kini dalam misi ketiganya untuk memulangkan cucunya. Dua misi sebelumnya pada 2016 dan 2018 tidak membuahkan hasil.

Dia secara sporadis berkomunikasi dengan cucu-cucunya itu. Bahkan Hoda, katanya, kadang mempertaruhkan keselamatannya dan pergi ke kafe internet untuk berkomunikasi dengan neneknya.

Anak-anak ini mengaku sama sekali tidak tahu bahwa mereka akan pergi ke Suriah.

"Bukan kami yang memilih datang ke sini sejak awal. Kami ke sini dibawa oleh orangtua kami," ujar Zaynab.

Menurut dia, ibunya memberitahu hanya akan mengunjungi ayah mereka di Turki. Setelah masuk ke Suriah, mereka baru diberitahu.

Hoda, Humzeh dan Zaynab Sharrouf saat masih tinggal di Australia sebelum orangtuanya membawa mereka ke Suriah. (foto: doc. ABC News/Supplied)

Laporan memperkirakan antara 3.700 hingga 4.600 anak-anak warga asing dibawa ke Suriah untuk bergabung ISIS. Sebanyak 730 anak lainnya terlahir di sana.

Lembaga Save the Children memperkirakan, lebih dari 3.500 anak-anak itu sekarang berada dalam tiga kamp pengungsi di Suriah. Tercatat 100 anak meninggal akibat kekurangan gizi dan hipotermia.

Setelah di berada Suriah, dua anak laki-laki tertua Khaled Sharrouf langsung mengikuti kamp pelatihan ISIS.

Foto-foto keluarga ini menunjukkan mereka berpose dengan senjata dan bahkan anak tertua Khaled, Abdullah, pernah berfoto dengan memegang kepala terpenggal.

Tidak lama tiba di Suriah, Khaled Sharrouf mengawinkan anaknya Zaynab yang masih berusia 13 tahun, dengan jihadis ISIS asal Australia Mohamed Elomar. Pasangan itu memiliki satu anak.

Elomar sendiri sudah terbunuh dalam serangan pesawat tanpa awak pada 2015.

Anak-anak Zaynab Sharrouf, Aisyah (tengah) dan Fatimah (kanan). (ABC News: David Maguire)

Zaynab kemudian menikah lagi dan memiliki seorang anak. Kini Zaynab dalam kondisi sedang hamil.

Meskipun hidup di tengah kebrutalan ISIS selama bertahun-tahun, Zaynab dan saudara-saudaranya mengaku bukanlah risiko jika pulang ke Australia.

"Bagi saya dan anak-anak saya, kami ingin menjalani kehidupan normal seperti orang lain," katanya.

"Bukankah saya juga berhak untuk hidup normal?" ujar Zaynab.

Sementara Hoda sejak awal mengaku sudah ingin pergi dari sana namun tidak diizinkan.

"Saat ibu bilang kami berada di Suriah, saya mulai menangis. Saya selalu minta pulang," katanya.

BACA JUGA: Istri Militan ISIS Ungkap Anak Teroris Masih Terjebak di Lokasi Perang

"Saya pikir bisa keluar kapan saja, tetapi tidak bisa. Begitu kita masuk, kita terjebak," tambahnya.

Hoda menggambarkan hari-hari terakhir di Kota Baghouz, ketika pasukan Kurdi dan pesawat militer Amerika Serikat (AS) perlahan-lahan memusnahkan pertahanan terakhir ISIS itu.

Keluarga itu tinggal di dalam parit perlindungan ketika terjadi tembak-menembak di sekitar mereka.

Saat gencatan senjata diumumkan, Hoda melarikan diri, berharap saudara-saudaranya akan mengikuti.

"Sangat sulit berjalan ke atas gunung," kata Hoda, yang tertembak kaki kirinya 18 bulan lalu.

Zaynab mengatakan pelarian tersebut merupakan perjalanan terburuk dalam hidupnya.

BACA JUGA: Australia Cabut Kewarganegaraan 5 Warganya yang Bergabung dengan ISIS

Dia menceritakan menghabiskan malam-malam dingin di padang pasir, bertemu tentara AS yang berjanji akan memperlakukan mereka dengan baik karena mereka orang Australia.

Namun mereka ditinggalkan di gurun tanpa selimut untuk anak-anaknya, Aisyah dan Fatimah. Barulah keesokan paginya mereka dibawa ke kamp pengungsi.

"Kami tak punya popok untuk Fatimah saat itu," katanya.

"Dia kedinginan dan sakit."

"Saya merasa akan mati kedinginan, akan mati di truk ini bersama anak-anak saya," tutur Zaynab.

Pemerintah Australia menegaskan tidak akan mengevakuasi anak-anak Australia yang keluarganya bergabung ISIS.

Namun sang nenek Karen Nettleton diberitahu jika dia bisa mengeluarkan cucu-cucunya itu dari Suriah, pemerintah Australia akan membantu mereka.


Editor : Nathania Riris Michico