Pengakuan Kontroversial 3 Pemuda Turki Tinggalkan Islam dan Jadi Ateis

Nathania Riris Michico ยท Sabtu, 08 Desember 2018 - 10:36 WIB
Pengakuan Kontroversial 3 Pemuda Turki Tinggalkan Islam dan Jadi Ateis

Ilustrasi para perempuan Turki yang mengenakan hijab. (Foto: National Geographic)

ISTANBUL, iNews.id - "Ini adalah satu-satunya hal yang menghubungkan saya dengan Islam," kata Meve, sambil menunjuk ke arah kerudung merahnya.

Merve mengajar agama kepada murid-murid sekolah dasar di Turki. Dulu dia sempat menjadi penganut yang sangat konservatif.

"Saya bahkan tidak berjabat tangan dengan pria," ujarnya, di sebuah kafe di Istanbul.

"Namun sekarang saya tidak tahu apakah ada Tuhan atau tidak, dan saya benar-benar tidak peduli," sambungnya, seperti dilaporkan BBC.

Selama 16 tahun partai Presiden Recep Tayyip Erdogan berkuasa, jumlah madrasah di seantero Turki meningkat lebih dari 10 kali lipat.

Berulang kali dia menegaskan pentingnya menumbuhkan generasi yang taat beragama.

Namun, beberapa pekan terakhir, politisi dan sejumlah ulama mendiskusikan apakah kaum muda yang taat telah menjauh dari agama.

Topik ini amat mengena bagi Merve.

Suatu hari, hidup Merve berubah setelah bangun dari tidur. Saat itu, dia merasa sangat depresi dan menangis selama berjam-jam. Dia kemudian memutuskan untuk salat.

Selagi dia bersembahyang, dia kaget ketika menyadari dirinya meragukan keberadaan Tuhan.

"Pilihannya saya akan gila atau bunuh diri. Keesokan harinya saya menyadari bahwa saya kehilangan iman saya."

Dia tidak sendirian. Seorang profesor mengatakan, lebih dari 12 mahasiswi berjilbab mendatanginya dan mengaku mereka menjadi ateis selama setahun terakhir.

1. Pengakuan Bekir, mahasiswa teologi

Beberapa waktu lalu, saya merupakan simpatisan kelompok radikal, seperti ISIS atau Al Qaeda. Sekarang saya menjadi ateis. Awalnya saya ingin menemukan logika dalam Islam, tapi saya tidak dapat menemukannya.

Lalu saya mulai mempertanyakan Tuhan. Dulu saya mendukung pemerintahan Islam di sini. Namun, penindasan menghasilkan revolusi. Mereka ingin menindas kami dan kami mulai bereaksi.

Tapi, bukan hanya ateisme yang dianut para pelajar ini.

Dalam sebuah kelompok kerja (pOkja) di Konya, salah satu kota paling konservatif di Turki, ada beberapa klaim bahwa sejumlah pelajar madrasah mulai meyakini deisme—keyakinan bahwa ada Tuhan pencipta tapi tidak mencampuri urusan di dalam dunia.

Keyakinan para pelajar ini, sebagaimana dilaporkan beberapa surat kabar oposisi, tumbuh karena menilai "ketidakkonsistenan dalam Islam".

Menteri Pendidikan Ismet Yilmaz mengatakan, pokja tersebut tidak punya dasar sains. Dia juga membantah semua laporan yang menyebutkan generasi taat beragama di Turki mulai mengalami perubahan.

Walau tidak ada statistik atau jajak pendapat untuk melihat seberapa luas pemahaman ini diikuti pelajar Turki, wacana adanya perubahan cukup membuat para pejabat Turki risau.

2. Pengakuan Leyla, mahasiswi

Suatu hari, saat berjalan menuju pasar, saya mencopot kerudung saya dan tidak mengenakannya lagi. Ayah saya tidak tahu saya penganut deisme.

Jika dia tahu, saya khawatir dia akan mencegah adik perempuan saya menempuh pendidikan sarjana.

'Kakak anda belajar ke universitas, dan itu yang terjadi padanya', mungkin itu yang ayah saya katakan. Saya tidak meminta Tuhan menciptakan saya, sehingga Tuhan tidak meminta apa-apa dari saya sebagai balasannya.

Saya punya hak untuk hidup bebas seperti burung.

Kepala Direktorat Urusan Keagamaan Turki, Ali Erbas, menepis penyebaran paham deisme atau ateisme di antara kaum muda konservatif di negara tersebut.

"Tidak ada warga negara kami yang mau menganut konsep yang sedemikian janggal dan hampa itu," ujarnya.

Profesor teologi, Hidayet Aybar, juga berkeras tidak ada pergeseran menuju deisme.

"Deisme menolak nilai-nilai Islam. Paham itu menolak Quran dan menolak nabi-nabi. Paham itu juga menolak surga dan neraka, malaikat, dan reinkarnasi. Itu semua adalah pilar-pilar Islam. Deisme hanya menerima keberadaan Tuhan," kata Aybar.

Menurut filosfi deisme, Tuhan menciptakan alam semesta dan semua makhluk di dalamnya, tapi tidak mencampuri ciptaannya dan tidak menerapkan aturan atau prinsip.

"Saya bisa memastikan kepada Anda tidak ada tendensi menuju deisme di antara kaum muda konservatif kami," tegasnya.

3. Pengakuan Omer, pengangguran

Saya pernah menjadi pegawai negeri. Setelah upaya kudeta pada 2016, saya dipecat. Saya dulunya pemuda yang relijius, konservatif, yang sangat mendukung partai berkuasa serta kebijakannya.

Saat saya dipecat, saya mulai mempertanyakan Tuhan, saya menjadi terasing. Saya tidak menyebut diri saya sebagai penganut deisme. Saya berharap dapat membangun kembali hubungan saya dengan Islam, tapi tidak tahu apakah itu mungkin atau tidak.

Asosiasi ateisme Turki menilai pandangan Aybar salah. Menurut asosiasi itu, ateisme sedang tren dan bahkan imam yang ateis pun ada.

"Di sini ada acara televisi yang berdebat apa yang seharusnya dilakukan terhadap ateis. Beberapa berpendapat mereka harus dibunuh, harus dicincang kecil-kecil," kata juru bicara asosiasi ateis, Saner Atik.

"Perlu keberanian yang besar untuk berkata Anda adalah seorang ateis dengan kondisi seperti itu. Padahal, ada sejumlah perempuan memakai niqab yang secara diam-diam mengaku bahwa mereka ateis, tapi tidak bisa melepas niqab karena takut dengan keluarga dan lingkungan sekitar," tambah Atik.

Saya bertemu dengan Merve untuk kedua kalinya di rumah. Dia menyambut saya tanpa memakai kerudung. Dia memutuskan tidak memakainya saat sedang berada di rumah, walaupun ada laki-laki di sekitarnya.

"Saat pertama kalinya saya bertemu dengan pria tanpa memakai kerudung, saya merasa sangat canggung. Namun, kini semua terasa alamiah. Inilah saya sekarang."

BBC menambahkan, semua nama penganut ateisme dan deisme yang diwawancarai dalam artikel ini sudah diubah.


Editor : Nathania Riris Michico