Pengamat: Al Qaeda Sedang Tiarap, tapi Masih Berbahaya dan Bersiap Bangkit

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 31 Juli 2019 - 15:57 WIB
Pengamat: Al Qaeda Sedang Tiarap, tapi Masih Berbahaya dan Bersiap Bangkit

Setelah Osama bin Laden tewas di tahun 2011, dia digantikan oleh Ayman al-Zawahiri sebagai pemimpin Al Qaeda. (FOTOReuters via Daily Dawn)

TEHERAN, iNews.id - Dalam beberapa tahun terakhir, di saat perhatian di Timur Tengah banyak dicurahkan dalam usaha memerangi ISIS, kelompok teroris yang sebelumnya menjadi asal mula dari ISIS yaitu Al Qaeda, tidak banyak mendapat perhatian.

Namun beberapa pengamat menyebut Al Qaeda masih merupakan kelompok yang berbahaya, namun sengaja untuk tidak melakukan kegiatan yang bisa membuat mereka mendapat perhatian dunia internasional.

Sejak sang pemimpin Osama bin Laden tewas di Pakistan pada 2011, Al Qaeda tampaknya sengaja 'tiarap' dan tidak melakukan serangan besar terutama di negara-negara Barat.

"Saya percaya bahwa Al Qaeda sengaja untuk tidak melakukan serangan teroris berskala internasional, khususnya yang 'spektakuler' untuk tidak menarik perhatian," kata Bruce Hoffman, peneliti mengenai terorisme global di Georgetown University, Amerika Serikat (AS).

"Al Qaeda... jelas sekali masih ada."

"Saya bahkan berani mengatakan bahwa kelompok ini diam-diam dan dengan sabar membangun kekuatan dan terus mengumpulkan sumber daya untuk melanjutkan perjuangan yang dicanangkan oleh Osama bin Laden lebih dari 20 tahun lalu," katanya, seperti dilaporkan ABC News, Rabu (31/7/2019).

Perjuangan mereka adalah perjuangan ideologis dan perjuangan fisik melawan apa yang mereka sebut musuh-musuh Islam.

Pemimpin kelomok itu, Ayman al-Zawahiri, mengatakan fokus Al Qaeda adalah menyerang AS yang disebut sebagai 'kepala ular' dan musuh utama warga Muslim di seluruh dunia.

Serangan terbesar yang pernah dilakukan Al Qaeda adalah serangan yang dikenal dunia sebagai peristiwa 11 September 2001, di mana beberapa gedung penting di AS termasuk World Trade Centre di New York dan Gedung Kementerian Pertahanan AS Pentagon di Washington, diserang.

Al Qaeda juga ingin mendirikan kekhalifahan Islam dari Yerusalem hingga ke Spanyol.

Tujuan mereka hampir sama dengan ISIS, sejalan karena ISIS sebelumnya berawal sebagai Al Qaeda di Irak, sebelum kemudian karena adanya perbedaan ideologi membuat kelompok itu terpecah pada 2013.

Sejak itu, dunia internasional lebih mengenal serangan yang dilakukan ISIS ke beberapa negara Barat termasuk Australia. Namun mereka kehilangan seluruh wilayah yang dikuasainya di Timur Tengah pada Maret 2019.

Di saat kekuatan ISIS diserang oleh pihak koalisi yang dipimpin AS dan wilayah kekuasaannya di Irak serta Suriah menghilang, Al Qaeda diam-diam memperkuat jaringannya di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

"Al Qaeda berusaha menutupi kekosongan yang tercipta menyusul kalahnya ISIS," kata Hoffman.

"Seluruh kegiatan yang diam-diam mereka lakukan menunjukkan adanya persiapan yang dibuat di mana di satu saat pemimpin mereka Ayman al Zawahiri akan menentukan saat yang tepat untuk bergerak lagi."

Masih jadi ancaman

Meski Al Qaeda tidak melakukan serangan di negara-negara Barat dalam beberapa tahun terakhir, namun kehadiran mereka masih merupakan ancaman bagi negara-negara Barat.

Pada Juni lalu, polisi di Spanyol menahan 10 orang yang menyalurkan dana bagi kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda di Suriah.

Dan tahun lalu, Menteri Pertahanan Inggris memperingatkan bahwa Al Qaeda sedang mengembangkan teknologi untuk menembak jatuh pesawat dan merencanakan serangan di bandar udara.

"Serangan terhadap dunia penerbangan sangat nyata. Al Qaeda muncul kembali. Mereka sudah membina kekuatan," kata Menteri Ben Wallace, kepada harian Inggris The Sunday Times.

"Mereka sedang merencanakan semakin banyak kemungkinan serangan ke Eropa dan semakin paham dengan metode baru, dan masih berencana melakukan serangan di bidang penerbangan," katanya.

Meski Al Qaeda sekarang tampak diam, mereka tetap bergerak, dan menurut beberapa pengamat, mereka akan melakukan serangan lagi di negara-negara Barat.

"Mereka sudah bergerak di semakin banyak negara. Sebelumnya mereka hanya bergerak di beberapa negara saja," tutur Hoffman.

Hoffman memperkirakan Al Qaeda berada di sediktnya 20 negara dengan kekuatan sekitar 40.000 pejuang bersenjata.


Editor : Nathania Riris Michico