Penganiayaan Anak di London Naik 15 Kali Lipat Selama Lockdown, Bayi Pun Jadi Korban

Ahmad Islamy Jamil ยท Jumat, 03 Juli 2020 - 08:05 WIB
Penganiayaan Anak di London Naik 15 Kali Lipat Selama Lockdown, Bayi Pun Jadi Korban

Ilustrasi bayi. (Foto: Istimewa)

LONDON, iNews.id – Salah satu rumah sakit khusus anak di Kota London, Inggris, mencatat peningkatan 15 kali lipat dalam jumlah kasus penganiayaan anak yang terlihat selama pemberlakuan karantina (lockdown) Covid-19, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Para peneliti melaporkan, dari 23 Maret hingga 23 April lalu (bertepatan dengan puncak dari penerapan aturan di rumah saja oleh Pemerintah Inggris) Rumah Sakit Great Ormond Street merawat 10 bayi yang didiagnosis dengan “trauma kepala akibat kekerasan”. Usia para bayi itu cukup variatif, mulai dari dua minggu hingga 13 bulan.

Pada 2017, 2018 dan 2019, rumah sakit yang sama melaporkan rata-rata hanya 0,67 kasus seperti itu dalam periode waktu yang sama setiap tahun. Jai Sidpra dari London Medical School dan empat dokter dari Great Ormond melaporkan temuan tersebut dalam jurnal medis Archives of Disease in Childhood.

Pemeriksaan klinis terhadap para korban menunjukkan sejumlah gejala kekerasan, termasuk pendarahan di mata, memar, serta pembengkakan kulit kepala. Sementara, hasil pemindaian sinar-X atau CAT menunjukkan adanya pendarahan otak, pendarahan internal, dan patah tulang tengkorak pada bayi-bayi malang itu.

Sesaat sebelum pemeriksaan, separuh dari bayi itu mengalami kolik, 40 persen hampir tak sadarkan diri, dan 20 persen mengalami kejang, menurut catatan rumah sakit.

“Peningkatan kejadian yang terlihat di institusi kami mencerminkan peningkatan kekerasan dalam rumah tangga di negara-negara yang menerapkan kebijakan jaga jarak sosial (social distancing) yang serupa,” tulis para peneliti dalam laporan yang telah dievaluasi oleh ilmuwan sejawat lainnya (peer-reviewed), dikutip AFP, Jumat (3/7/2020).

Jumlah kasus kekerasan terhadap anak yang sebenarnya di Inggris bahkan mungkin lebih tinggi dari yang dilaporkan rumah sakit tersebut. Ini karena banyak orang yang menghindari kunjungan ke rumah sakit selama pandemi Covid-19.

Editor : Ahmad Islamy Jamil