Penyelidikan Terbaru, Pesawat Ukraina Ditembak Jatuh Rudal Jarak Dekat Tor-M1 Iran

Anton Suhartono ยท Selasa, 21 Januari 2020 - 13:40 WIB
Penyelidikan Terbaru, Pesawat Ukraina Ditembak Jatuh Rudal Jarak Dekat Tor-M1 Iran

Pesawat Ukraina jatuh akibat ditembak 2 rudal jarak pendek Iran (Foto: AFP)

TEHERAN, iNews.id - Otoritas penerbangan sipil Iran, Senin (20/12/2020), mengungkap hasil penyelidikan terbaru jatuhnya pesawat Ukraine International Airlines akibat ditembak rudal pada 8 Januari 2020.

Pesawat yang mengangkut 176 penumpang dan kru itu jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Imam Khemeini, Teheran, dalam penerbangan menuju Kiev, Ukraina.

Baca Juga: Iran Mengaku Tembak Jatuh Pesawat: Ukraina Tuntut Hukuman, Permintaan Maaf dan Kompensasi

Insiden ini terjadi di tengah ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) terkait pembunuhan jenderal Qasem Soleimani di Baghdad, Irak, pada 3 Januari 2020.

Beberapa jam sebelum pesawat jatuh, Iran menghujani dua pangkalan militer di Irak yang menjadi markas pasukan AS dengan lebih dari 22 rudal.

Otoritas penerbangan sipil Iran, dikutip dari Bloomberg, Selasa (21/1/2020), menyebut, pesawat Boeing 737-800 itu ditembak oleh dua rudal jarak dekat Tor-M1.

Disebutkan pula, pesawat lepas landas dari bandara Teheran pukul 06.12 waktu setempat dan hilang kontak dengan menara kontrol lalu lintas udara (ATC) pada ketinggian 8.100 kaki.

Baca Juga: Presiden Iran Rouhani: Tembak Jatuh Pesawat Ukraina Adalah Kesalahan Tak Termaafkan

Tiga menit setelah lepas landas, pesawat hilang dari layar radar pengawas sekunder pukul 06.15 dan dilanjutkan pada 06.18 hilang dari radar pengawas utama.

Kotak hitam pesawat Ukraina masih berada di Iran. Semua data penerbangan, termasuk percakapan pilot, berada di dalam kotak hitam. Namun sejauh ini Iran menolak memberikannya ke pihak berwenang untuk diperiksa.

Baca Juga: Kanada Desak Iran Kirim Kotak Hitam Pesawat yang Ditembak Jatuh ke Ukraina atau Prancis

Iran tidak memiliki fasilitas untuk membaca kode kotak hitam sehingga memerlukan bantuan dari badan penyelidikan kecelakaan Prancis dan AS. Namun kedua negara menolak mengirim peralatan ke Iran.


Editor : Anton Suhartono