Perempuan Singapura Berbagi Kisah saat Terpaksa Melahirkan di Taksi Online

Anton Suhartono ยท Senin, 12 Agustus 2019 - 15:13 WIB
Perempuan Singapura Berbagi Kisah saat Terpaksa Melahirkan di Taksi Online

Perempuan di Singapura melahirkan di taksi online (Foto: Facebook)

SINGAPURA, iNews.id - Peristiwa ini tak akan dilupakan Nur Syazwani Muhammad Rosdi (25), perempuan asal Singapura, yang melahirkan di taksi online.

Guru PAUD tersebut mengalami kontraksi hebat di bangku penumpang belakang Grab pada Rabu (7/8/2019) malam dalam perjalanan ke Thomson Medical Centre. Saat itu Nur didampingi suaminya.

Pengalaman itu diceritakan kembali oleh Syazwani di akun Facebook-nya.

Mereka hanya 10 menit lagi sampai rumah sakit saat ketuban Syazwani pecah.

"Saya mencoba mengendalikan tubuh, kontraksi, dan rasa sakit yang terus datang. Saya memutuskan membuang rasa gengsi keluar dari jendela mobil. Tubuh mengatakan kepada saya untuk mendorong bayi ini keluar dan saya melakukannya," tutur Syazwani.

Kejadian ini jelas membuat sang suami, Kamarulnizam Kiman (25), panik. Namun mereka hanya pasrah mengikuti apa yang diinginkan tubuh, hingga akhirnya sang bayi, kemudian diberi nama Mia, keluar.

Pria yang bekerja sebagai ASN itu mengatakan, hal yang terlintas di pikirannya saat itu hanya ingin segera sampai rumah sakit.

"Saya memegang bayi di satu tangan dan plasenta istri di tangan yang lain," kata Kamarulnizam, dikutip dari The Straits Times, Senin (12/8/2019).

Proses persalinan, lanjut dia, hanya memakan waktu 10 menit, lebih cepat dibandingkan dengan kelahiran dua anak mereka sebelumnya.

Pasangan tersebut tiba di rumah sakit setelah menempuh perjalanan 30 menit.

Dalam tulisannya di Facebook, Syazwani menyampaikan terima kasih kepada pengemudi Grab, Chia Shang Heng, karena memahami kondisinya serta bersikap ramah.

"Kami meminta maaf atas kekacauan di mobil Anda, penghasilan Anda hilang karena mobil menjadi kotor untuk dikendarai dan adegan drama mengerikan yang harus Anda hadapi saat mengemudi. Sekali lagi terima kasih telah menjadi pahlawan kami."

Selain membayar tarif sebesar 15 dolar ditambah tip 8 dolar, mereka memberi uang tambahan sebesar 220 dolar Singapura sebagai kompensasi.


Editor : Anton Suhartono