PM Boris Johnson Bakal Bentrok dengan Parlemen Inggris soal Nasib Brexit

Anton Suhartono ยท Selasa, 03 September 2019 - 19:08 WIB
PM Boris Johnson Bakal Bentrok dengan Parlemen Inggris soal Nasib Brexit

Boris Johnson (Foto: AFP)

LONDON, iNews.id - Nasib Brexit dalam pertaruhan dalam sidang pada Selasa (3/9/2019). Anggota parlemen bersiap melawan keputusan Perdana Menteri Boris Johnson yang ngotot ingin mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa.

Anggota Partai Konservatif yang mengusung Johnson bahkan bergabung dengan kubu oposisi di parlemen dalam pemungutan suara untuk memaksa penundaan Brexit, jika dia gagal mencapai  kesepakatan dengan Brussels (Uni Eropa) dalam beberapa pekan ke depan.

Pria yang baru 6 pekan menjabat sebagai perdana menteri itu ingin Inggris keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober 2019 dengan atau tanpa kesepakatan tentang bagaimana negaranya mengakhiri keanggotaan di Uni Eropa setelah hampir 50 tahun.

Keputusannya untuk membekukan parlemen selama sebulan, terhitung sejak pekan depan, dengan tujuan agar anggota tak bisa melawan, memicu kemarahan serta berujung pada tiga tuntutan.

Krisis ini juga mungkin berakhir dengan perpecahan di internal dua partai besar Inggris.

"Jika pada akhirnya perdana menteri dan pemimpin partai saya melakukan sesuatu yang secara fundamental salah, maka saya tidak dapat terus mendukungnya," kata Dominic Grieve, anggota parlemen dari Partai Konservatif yang membelot, dikutip dari AFP.

"Saya benar-benar tidak melihat bahwa partai Konservatif akan bertahan saat ini jika anggotanya terus bersikap seperti ini satu sama lain," tuturnya, menambahkan.

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan parlemen untuk menghentikan ambisi Johnson mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa pada 31 Oktober 2019, namun tak mudah.

Pertama, anggota parlemen mencoba mengambil alih kekuasaan pemerintah pada Selasa dan membatalkan undang-undang untuk menggelar pemungutan suara awal sebagaimana diinginkan Johnson.

Selanjutnya, mereka berharap punya kesempatan memberikan suara pada Rabu untuk memaksa Johnson memperpanjang Brexit sampai 31 Januari 2020, jika tidak ada kesepakatan yang dicapai dalam KTT Uni Eropa pada 17-18 Oktober.

Mereka bahkan telah membuat surat yang seharusnya disampaikan Johnson kepada Presiden Dewan Uni Eropa Donald Tusk di Brussels.

Sementara itu, pertarungan ini diperkirakan akan dimulai dengan pidato parlemen oleh Boris Johnson yang dijadwalkan disampaikan pada 1430 GMT.

Editor : Anton Suhartono