Polisi yang Menolong Eks Intel Rusia Juga Kritis Terpapar Zat Kimia

Nathania Riris Michico ยท Kamis, 08 Maret 2018 - 13:27 WIB
Polisi yang Menolong Eks Intel Rusia Juga Kritis Terpapar Zat Kimia

Polisi Inggris berjaga di depan pusat perbelanjaan di Inggris, tempat Sergei Skripal dan putrinya terpapar zat kimia (Foto: AFP)

LONDON, iNews.id - Selain mantan agen ganda Rusia, Sergei Skripal (66) dan putrinya, Yulia, seorang polisi Inggris juga terpapar zat kimia. Polisi itu merupakan orang pertama yang berada di lokasi, sebuah pusat perbelanjaan di Salisbury, menolong Skripal.

Namun ternyata dia ikut terkena zat kimia tersebut.

Pihak kepolisian Inggris mengonfirmasi hal tersebut dan menyebut polisi itu dalam kondisi kritis. Beberapa petugas medis lain yang berada di lokasi untuk menolong Skripal dan Yulia juga menunjukkan gejala terkena zat kimia, namun mereka belum dirawat di rumah sakit.

"Sayangnya, sebagai tambahan, seorang polisi, yang merupakan salah satu orang pertama yang hadir di lokasi kejadian, saat ini juga dalam kondisi serius di rumah sakit," kata Komisaris Kepolisian Metropolitan, Mark Rowley, seperti dilansir AFP, Kamis (8/3/2018).

Rowley mengatakan, berdasarkan hasil uji laboratorium oleh pakar dari pemerintah, dipastikan terkena zat kimia, tapi dia enggan membeberkan substansi dari zat kimia tersebut.

Media Inggris, Sky News, melaporkan, saat ini ketiga korban masih kritis, bahkan koma.

Laporan lain yang mengutip seorang pejabat senior Pemerintah Inggris mengungkap bahwa kondisi Skripal yang paling parah.

"Perasaan saya mengatakan dia tidak akan berhasil keluar dari (kondisi) ini. Kondisi Yulia lebih baik. Mereka berharap Yulia bisa lolos (dari maut)," kata sumber tersebut.

Dengan dipastikannya zat kimia sebagai penyebab Skripal dan Yulia kritis, maka Kepolisian Inggris punya kekuatan hukum untuk mengangkat kasus ini sebagai percobaan pembunuhan.

Skripal merupakan mantan agen intelijen Rusia yang berkhianat dengan membocorkan rahasia ke Inggris pada era Perang Dingin. Dia mendapat suaka politik di Inggris pada 2010 setelah pertukaran tahanan dengan Rusia.

Inggris mencurigai Rusia berada di balik serangan ini, namun Rusia membatahnya.


Editor : Anton Suhartono