Putin Ancam Tutup Apotek yang Ambil Untung dari Wabah Virus Korona

Nathania Riris Michico ยท Kamis, 06 Februari 2020 - 10:23 WIB
Putin Ancam Tutup Apotek yang Ambil Untung dari Wabah Virus Korona

Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri upacara menyambut duta besar asing yang baru diangkat ke Rusia di Kremlin di Moskow, 5 Februari 2020. (FOTO: Aleksey Nikolskyi / SPUTNIK / AFP)

MOSKOW, iNews.id - Pemimpin Rusia Vladimir Putin memerintahkan penutupan apotek yang dituduh menaikkan harga masker. Pasalnya, permintaan masker di Rusia melonjak lantaran kekhawatiran penyebaran virus korona.

Berbicara dalam pertemuan pemerintah, Putin menegaskan mengambil keuntungan dari penjualan masker adalah tindakan salah; dan apotek yang melakukan penipuan harga harus dihukum.

"Mereka harus dilucuti dari lisensi mereka untuk melaksanakan pekerjaan mereka, itu saja," kata pemimpin berusia 67 tahun itu, seperti dilaporkan AFP, Kamis (6/2/2020).

"Mereka telah memutuskan mendapatkan keuntungan uang tunai," ujar Putin.

Dia mengatakan, Rusia memiliki jaringan apotek yang luas sehingga tidak ada yang akan mengalami kekurangan obat.

Rusia, yang memiliki perbatasan 4.000 kilometer dengan China, memiliki dua kasus yang dikonfirmasi terkait virus korona. Kedua pasien adalah warga negara China dan mereka dirawat di rumah sakit di Siberia.

Rusia menutup perbatasan darat dengan China dan memperkenalkan sejumlah langkah lain untuk menghentikan penyebaran virus korona.

Beberapa mengeluhkan di media sosial bahwa beberapa apotek menjual masker bedah karena banyak yang terburu-buru untuk membeli.

Wakil Perdana Menteri Tatyana Golikova, yang bertanggung jawab atas satuan tugas untuk memerangi penyebaran virus korona, mengatakan dalam pertemuan itu bahwa satu rantai farmasi menaikkan harga masker.

"Beberapa apotek menaikkan harga antara 70 dan 100 rubel (1,10 hingga 1,60 dolar) sedangkan masker dijual seharga 1,5 rubel sebelum Tahun Baru," katanya, saat pertemuan dengan Putin.

Golikova menuturkan, pemerintah menyiapkan hotline telepon bagi warga untuk melaporkan pemalsuan harga.

"Kami sudah mengendalikan situasi," kata dia.

Editor : Nathania Riris Michico