Reaksi Pemimpin Dunia Atas Pengunduran Diri PM Inggris Theresa May

Nathania Riris Michico ยท Sabtu, 25 Mei 2019 - 13:47 WIB
Reaksi Pemimpin Dunia Atas Pengunduran Diri PM Inggris Theresa May

PM Inggris Theresa May menitikkan airmata saat mengumumkan pengunduran dirinya. (FOTO: AP)

LONDON, iNews.id - Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May memutuskan mundur, Jumat (24/5/2019) dan akan melepaskan jabatannya sebagai pemimpin Partai Konservatif pada 7 Juni 2019. Pengunduran diri PM May tampaknya akan membuat pemisahan Inggris dari Uni Eropa semakin sulit.

Berikut reaksi internasional atas pengumuman pengunduran diri PM May, seperti dilaporkan AFP, Sabtu (25/5/2019).

Uni Eropa menyatakan pengunduran diri ini tidak mengubah posisi dalam kesepakatan Brexit yang disepakati dengan Inggris.

Presiden Komisi Uni Eropa Jean-Claude Juncker mencatat, keputusan May itu dilakukan tanpa ada unsur kepentingan pribadi. Dia menyebut dewan para pemimpin Uni Eropa telah "menetapkan posisi Inggris" pada kesepakatan Brexit.

"Saya ingin menyatakan rasa hormat penuh untuk @theresa_may dan untuk tekadnya, sebagai Perdana Menteri, dalam bekerja menuju penarikan #Inggris dari Uni Eropa," cuit Ketua negosiator Brexit Uni Eropa, Michel Barnier.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga angkat bicara soal pengunduran diri PM May. Dia mengaku merasa kasihan pada May, meski dia kerap mengkritik PM Inggris berulang kali dalam beberapa bulan terakhir terkait Brexit.

"Saya merasa sedih untuk Theresa. Saya sangat menyukainya. Dia adalah perempuan yang baik," kata Trump kepada wartawan di halaman Gedung Putih.

"Dia bekerja sangat keras. Dia sangat kuat."

Pemimpin AS itu dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris bulan depan dan akan bertemu dengan PM May hanya beberapa hari sebelum dia secara resmi mengundurkan diri pada 7 Juni.

Presiden Prancis Emmanuel Macron memuji May atas "pekerjaannya yang berani" dalam berusaha menerapkan Brexit untuk kepentingan negaranya sambil menunjukkan rasa hormat kepada mitra-mitra Eropa Inggris.

"Prinsip-prinsip Uni Eropa akan terus berlaku, dengan prioritas pada kelancaran fungsi Uni Eropa, dan ini membutuhkan klarifikasi cepat. Pada saat pilihan penting, suara penolakan yang tidak menawarkan alternatif akan menyebabkan kebuntuan," demikian pernyataan Elysee.

Kanselir Jerman Angela Merkel menerima keputusan PM May "dengan hormat". Dia mengatakan diriya dan PM May berbagi hubungan kerja yang baik dan dapat dipercaya.

Merkel juga berjanji akan terus bekerja sama dengan PM May selama dia masih menjabat.

"Berlin ingin mempertahankan kerja sama yang erat dan hubungan yang erat dengan pemerintah Inggris", kata juru bicara Merkel, Martina Fietz.

Fietz menolak berkomentar tentang bagaimana pengunduran diri PM May memengaruhi Brexit.

"Karena perkembangan itu pada dasarnya tergantung pada perkembangan politik domestik di Inggris."

Di Moskow, Kremlin mengatakan bahwa kepemimpinan PM May adalah masa yang sangat sulit bagi hubungan Rusia dengan Inggris.

"Tugas Ibu May sebagai perdana menteri muncul selama periode yang sangat sulit dalam hubungan bilateral kita," kata juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov.

Sementara itu, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengatakan Uni Eropa tidak akan pernah membuka kembali perundingan tentang perjanjian pemisahan Brexit, terlepas dari siapa yang menggantikan Theresa May.

"Perjanjian penarikan tidak untuk negosiasi ulang," kata Rutte.

Pengunduran diri PM May dianggap penuh dengan bahaya bagi Irlandia, karena pengganti May dapat membawa Inggris keluar dari UE tanpa kesepakatan. Hal itu disampaikan Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar.

"Politik Inggris dikonsumsi oleh Brexit dan akan dikonsumsi oleh Brexit untuk waktu yang sangat lama. Ini berarti bahwa kita sekarang memasuki fase baru ketika Brexit, dan fase yang mungkin sangat berbahaya bagi Irlandia," kata Varadkar, saat memberikan suara dalam pemilihan Parlemen Eropa.

Spanyol memperingatkan bahwa Brexit tanpa kesepakatan nyaris tidak terhindarkan.

"Dalam keadaan ini, Brexit tampaknya menjadi kenyataan yang hampir tidak mungkin untuk dihentikan," kata juru bicara pemerintah Spanyol, Isabel Celaa.

"Pemerintah dan parlemen Inggris akan bertanggung jawab untuk keluar tanpa kesepakatan (dari Uni Eropa) dan konsekuensinya."

Editor : Nathania Riris Michico