Sadis, Perempuan Hamil di Afsel Dibunuh lalu Tubuhnya Digantung di Pohon

Arif Budiwinarto ยท Rabu, 17 Juni 2020 - 18:50:00 WIB
Sadis, Perempuan Hamil di Afsel Dibunuh lalu Tubuhnya Digantung di Pohon
Tshegofatso Pule ditemukan tewas tergantung di pohon di Johannesburg, Afrika Selatan

JOHANNESBURG, iNews.id - Kekerasan terhadap perempuan kembali terulang di Johannesburg, Afrika Selatan. Terbaru, seorang perempuan berusia 28 tahun ditemukan tewas tergantung di sebuah pohon dengan luka tusukan.

Tshegofatso Pule ditemukan sudah tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan di Roodepoort, wilayah pinggiran Johannesburg, tubuhnya berlumuran darah digantung di sebuah pohon besar. Sebelumnya, Pule dilaporkan telah menghilang sejak tanggal 4 Juni lalu.

Hasil otopsi menunjukkan Pule yang tengah hamil delapan bulan mengalami kekerasan fisik karena ditemukan sejumlah luka, termasuk bekas tusukan pisau di dada.

Polisi sudah mengamankan seorang pria berusia 31 tahun yang diduga kuat sebagai pembunuh Pule. 

Kematian Pule memicu kemarahan warga Afrika Selatan, selain menggelar aksi unjuk rasa mereka juga meramaikan media sosial Twitter dengan tanda pagar (tagar) #JusticeForTshego.

Saat negara tengah fokus menangani pandemi Covid-19, kekerasan berbasis gender kembali mencuat jadi permasalahan pelik negara di selatan Afrika itu. Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, menyebut fakta tersebut sebagai aib negara.

Ramaphosa mengklaim pemerintahnya sudah berusaha menambah sumber daya untuk menekan kekerasan yang kerap disembunyikan oleh warga tradisional Afrika Selatan.

"Kami mencatat hal menjijikan saat negara ini menghadapi ancaman paling mengerikan dari pandemi Covid-19, ada pria kejam yang mengambil keuntungan dari pelonggaran pembatasan untuk melakukan kekerasan pada perempuan dan anak-anak," demikian pernyataan Ramaphosa dikutip dari BBC, Rabu (17/6/2020).

Dalam sepekan terakhir, setidaknya sudah terjadi tiga pembunuhan sadis pada perempuan dan anak. Selain kasus nyonya Pule, dua kasus lainnya menimpa Naledi Phangindawo (25 tahun) yang ditikam di dekat kota pelabuhan Mossel Bay pada Sabtu lalu. Sebelumnya, ada kasus pembunuhan perempuan muda yang jasadnya dikubur di bawah pohon di Soweto.

Pemerintah Afrika Selatan melansir sebanyak 51 persen perempuan di Afrika Selatan pernah mengalami kekerasan dilakukan oleh orang yang masih memiliki hubungan dengannya.

Presiden Ramaphosa meminta agar perempuan, atau siapapun yang melihat atau mengalami kekerasan berbasis gender berani bersuara.

"Kekerasan berbasis gender tumbuh subur dalam iklim 'keheningan'. Kami melihat, dengan warga tidak berani berbicara, itu bisa melibatkan keluarga atau pribadi dalam kejahatan paling berbahaya ini," lanjutnya.

Editor : Arif Budiwinarto