Satelit Iran Gagal Masuk Orbit

Anton Suhartono ยท Selasa, 15 Januari 2019 - 14:48 WIB
Satelit Iran Gagal Masuk Orbit

Ilustrasi peluncuran roket Iran (Foto: Kementerian Pertahanan Iran/AFP)

TEHERAN, iNews.id - Satelit yang diluncurkan Iran Selasa (15/1/2019) pagi gagal masuk orbit. Peluncuran satelit observasi tersebut dikecam Amerika Serikat (AS) karena dianggap menyalahi resolusi PBB.

Menteri Telekomunikasi Iran Mohammad Javad Azari Jahromi mengatakan, satelit gagal masuk orbit di saat-saat akhir.

"Satelit Payam berhasil diluncurkan pagi ini menggunakan roket Basir. Tapi sayangnya gagal masuk orbit di tahap akhir," kata Jahromi, dikutip dari AFP.

Padahal, lanjut dia, roket dan satelit sudah diuji coba dua kali sebelum peluncuran sesungguhnya dan berhasil.

Dia menjelaskan, satelit gagal mencapai kecepatan yang diinginkan saat terlepas dari roket di tahap ketiga. Satelit dan roket didesain dan dibuat di Universitas Teknologi Amirkabir, Teheran.

Jahromi melanjutkan, Iran masih berencana meluncurkan satelit lain bernama Doosti ke orbit rendah Bumi. Namun dia tak menyebut waktu peluncurannya. Hanya saja satelit akan ditempatkan di orbit dengan ketinggian 250 kilometer.

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengirimnya ke orbit," ujarnya.

Presiden Hassan Rouhani pada Senin kemarin mengatakan, Payam dan Doosti punya misi mengumpulkan informasi soal perubahan lingkungan di Iran.

"Satelit akan memberi informasi yang dibutuhkan, dan akan membuktikan kepada dunia bahwa kami adalah negara ilmu pengetahuan," katanya.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada awal bulan ini mengatakan, rencana Iran untuk mengirim satelit ke orbit menyalahi resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB. Resolusi DK PBB Nomor 2.231 menyerukan agar Iran menahan diri menguji coba rudal yang bisa membawa senjata nuklir, namun tak secara khusus melarang peluncuran rudal atau roket tanpa hulu ledak.

Sementara itu Iran membantah uji coba tersebut melanggar resolusi DK PBB.

"Satelit ini bagian dari proyek sipil dan sepenuhnya bertujuan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Iran tak akan menunggu izin dari negara manapun untuk melakukan proyek ilmiah," kata juru bicara kementerian luar negeri, Bahram Ghasemi.


Editor : Anton Suhartono