Sebut Sakit Mental Picu Penembakan, Trump Ingin Lebih Banyak Institusi Kejiwaan

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 16 Agustus 2019 - 10:06 WIB
Sebut Sakit Mental Picu Penembakan, Trump Ingin Lebih Banyak Institusi Kejiwaan

Presiden AS Donald Trump. (FOTO: REUTERS/Jonathan Ernst)

MORRISTOWN, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendukung pemeriksaan latar belakang ketat bagi para pembeli senjata api. Namun, menurutnya, yang bertanggung jawab atas penembakan massal baru-baru ini di AS adalah penyakit mental.

Trump menyarankan AS harus membangun lebih banyak institusi kejiwaan.

Trump mengatakan dirinya sudah berbicara dengan pemimpin mayoritas Senat, Mitch McConnell, dan banyak amggota Partai Republik lainnya tentang masalah kejahatan senjata api.

"Mereka tidak ingin orang gila, orang berbahaya, orang benar-benar jahat, memiliki senjata," ujar Trump, seperti dilaporkan Reuters, Jumat (16/8/2019).

"Kami tidak ingin orang gila memiliki senjata," kata presiden AS itu.

"Itulah mereka. Mereka menarik pelatuknya. Pistol tidak menarik pelatuknya sendiri. Mereka menarik pelatuknya. Jadi kita harus melihat dengan sangat serius terkait penyakit mental."

Trump berada di bawah tekanan untuk menghentikan kekerasan senjata setelah dua penembakan massal yang menewaskan 31 orang bulan ini terjadi di Texas dan Ohio. Komentarnya muncul ketika dia memulai kunjungan dari New Jersey untuk berkampanye di New Hampshire.

"Kami sedang melihat keseluruhan situasi senjata," kata Trump, ketika ditanya apakah dia menekan Partai Republik untuk memberlakukan pemeriksaan latar belakang yang lebih ketat untuk pembeli senjata.

Kemudian saat rapat umum di Manchester, New Hampshire, Trump mengatakan bahwa perlu mempertimbangkan membangun institusi baru untuk orang yang sakit mental.

"Kita harus melakukannya. Pada saat yang sama kita akan membawa orang-orang sakit jiwa dan berbahaya keluar ke jalan sehingga kita tidak perlu terlalu khawatir tentang hal itu. Ini masalah besar," katanya.

Dalam komentarnya di New Jersey, Trump mengatakan banyak institusi mental AS ditutup pada 1960-an dan 1970-an dan pasien mereka dilepaskan ke jalan-jalan.

"Kita tidak bisa membiarkan orang-orang ini di jalanan," tandasnya.


Editor : Nathania Riris Michico