Sempat Dideportasi dari AS, Remaja Palestina Akhirnya Bisa Kuliah di Harvard

Anton Suhartono ยท Rabu, 04 September 2019 - 10:42 WIB
Sempat Dideportasi dari AS, Remaja Palestina Akhirnya Bisa Kuliah di Harvard

Ismail Ajjawi (tengah) (Foto: Twitter)

WASHINGTON, iNews.id - Remaja asal Palestina Ismail Ajjawi (17) akhirnya bisa berkuliah di Universitas Harvard setelah sempat dideportasi dari oleh otoritas Amerika Serikat (AS).

Dia tiba melalui Bandara Internasional Logan di Boston pada Agustus akhir Agustus kemudian ditahan petugas imigrasi dan diinterogasi selama 8 jam. Setelah itu, dia dipulangkan ke Lebanon.

Ismail mendapat bantuan hukum dari Amideast, sebuah LSM di bidang pendidikan internasional berbasis di Washiongton.

"Sepuluh hari terakhir merupakan masa yang sulit dan dipenuhi kecemasan, tapi kami berterima kasih atas ribuan dukungan, terutama dari Amideast," kata keluarga, dalam pernyataan, seraya meminta dukungan untuk menjaga privasi Ismail, dikutip dari AFP, Rabu (4/9/2019).

Presiden dan CEO Amideast Theodore Kattouf mengungkapkan rasa bangganya atas keberhasilan Ismail berkuliah di Harvard.

"Kami bangga impian Ismail untuk berkuliah di Harvard terwujud," kata Kattouf.

"Ismail merupakan pemuda yang pintar, pekerja keras, cerdas, dan kemauan kuat memungkinkannya untuk mengatasi segala tantangan yang dihadapi, oleh para pemuda pengungsi Palestina untuk mendapatkan beasiswa," katanya, menambahkan.

Ismail sebelumnya mengatakan, saat tiba di Bandara Internasional Lagon, seorang petugas bertanya tentang agama lalu menggeledah laptop dan teleponnya.

Petugas lalu membentaknya setelah melihat posting-an mengenai politik di akun media sosialnya, meskipun komentar itu ternyata dibuat teman-teman dan bukan olehnya.

Kasus ini menarik perhatian media luas. Amideast menyatakan Harvard turut membantu Ismail. Setelah itu Kedutaan Besar AS di Beirut menerbitkan kembali visa sehingga dia bisa kembali.

Pihak berwenang AS menolak menjelaskan mengapa menolak Ismail masuk. Petugas Customs and Border Protection (CBP) hanya menyatakan bahwa Ismail tak bisa diterima di AS.


Editor : Anton Suhartono