Serangan Israel di Gaza Hantam Kantor Berita Turki, Erdogan Murka

Nathania Riris Michico ยท Minggu, 05 Mei 2019 - 11:42 WIB
Serangan Israel di Gaza Hantam Kantor Berita Turki, Erdogan Murka

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (FOTO: Getty Images/Washington Post)

ANKARA, iNews.id - Presiden Recep Tayyip Erdogan marah setelah serangan udara militer Israel menghantam kantor berita Turki, Anadolu, pada Sabtu (4/5/2019). Dia mengatakan serangan itu tak akan membungkamnya untuk menyampaikan pada dunia tentang tindakan terorisme rezim Zionis.

"Turki dan Anadolu akan terus memberi tahu dunia tentang terorisme dan kekejaman Israel di Gaza dan bagian-bagian lain Palestina, meskipun ada serangan semacam itu," kata Erdogan, seperti dikutip dari akun Twitter-nya, @RTErdogan, Minggu (5/5/2019).

"Kami mengutuk keras serangan Israel terhadap kantor Anadolu di Gaza," lanjut Erdogan.

Media Turki itu membagikan video serangan pada Sabtu kemarinyang memperlihatkan tim penyelamat menyisir puing-puing bangunan kantor berita yang yang hancur.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menggambarkan serangan itu sebagai contoh baru dari agresi Israel yang tidak terkendali.

Kantor berita tersebut dilaporkan dihantam lima roket militer Zionis. Kementerian Luar Negeri Turki menyerukan masyarakat internasional untuk bertindak cepat guna meredam ketegangan di kawasan tersebut karena tindakan Israel tidak proporsional.

Seperti diberitakan sebelumnya, kelompok militan Jalur Gaza dan militer Israel saling serang. Lebih dari 200 roket ditembakkan dari Gaza ke Israel selatan. Puluhan roket berhasil diintersepsi atau dicegat sistem pertahanan rudal Iron Dome.

Tembakan roket-roket tersebut merusak sebuah rumah dan melukai dua warga sipil.

Sedangkan militer Zionis melancarkan serangan udara terhadap sekitar 70 target di Gaza. Beberapa target diklaim sebagai pos-pos militer Hamas dan terowongan yang digunakan kelompok Jihad Islam Palestina. Serangan udara ini menewaskan setidaknya tiga orang, yakni pria 22 tahun, ibu hamil dan bayi berusia satu tahun.


Editor : Nathania Riris Michico