Status Akhir Yerusalem Akan Ditentukan Perunding Israel-Palestina

Kastolani, Antara ยท Sabtu, 09 Desember 2017 - 05:54 WIB
Status Akhir Yerusalem Akan Ditentukan Perunding Israel-Palestina

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson. (Foto: AFP)

PARIS , iNews.id - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson mengatakan, status akhir Yerusalem akan ditentukan oleh para perunding Israel dan Palestina, kendati Presiden AS Donald Trump telah memutuskan untuk mengakui kota suci itu sebagai ibu kota Israel.

"Presiden (Trump) tidak mengisyaratkan status akhir untuk Yerusalem," kata Tillerson kepada para wartawan di Paris dalam acara jumpa pers bersama Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian, Jumat waktu setempat.

"Menurut saya, beliau (Trump) sangat jelas, bahwa status akhir Yerusalem, termasuk perbatasan, akan tergantung pada perundingan dan keputusan pihak-pihak terkait," tambahnya.

Pada Rabu, 6 Desember lalu, Donald Trump membalikkan kebijakan yang telah dianut Washington selama berpuluh-puluh tahun dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Trump memutuskan untuk memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Yerusalem merupakan kota suci yang menjadi masalah sensitif dalam perundingan perdamaian serta menjadi topik utama pertentangan selama berpuluh-puluh tahun antara para perunding Palestina dan Israel.

Pengakuan Trump itu mengundang kecaman dari seluruh dunia dan penentangan dari negara-negara Arab dan berpenduduk mayoritas Muslim, serta mengecewakan negara-negara Barat.

Warga Palestina pada Jumat menggelar protes di Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yerusalem Timur atas pengakuan yang diberikan AS terhadap Yerusalem. Setidaknya satu warga Palestina tewas saat bentrokan dengan tentara-tentara Israel.

Bagi Menlu Tillerson, memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem "sudah pasti akan dilakukan". Namun, proses pemindahan akan membutuhkan waktu.

"(Pemindahan kedutaan) ini bukan sesuatu yang akan terjadi tahun ini atau bahkan mungkin tahun depan," katanya.

Pascapernyataan Presiden AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, aksi demonstrasi besar-besaran menentang keputusan AS itu terjadi di belahan dunia hingga memakan korban jiwa. Seorang warga Palestina tewas ditembak tentara Israel di Tepi Barat, Jalur Gaza, Jumat waktu setempat.

Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi bahwa Mahmoud al-Masri, 30, tewas di Khan Yunis, selatan Gaza, dalam bentrok dengan aparat Israel. Mahmoud menjadi korban tewas pertama dalam aksi demonstrasi menentang kebijakan AS. Di sisi lain Israel mengakui telah menembak dua orang yang mereka anggap provokator dalam 'kerusuhan penuh kekerasan’ tersebut.

Sementara itu, pesawat-pesawat jet tempur Israel mulai melancarkan serangan balasan ke Jalur Gaza sebagai tanggapan terhadap serangan roket yang diluncurkan dari Gaza ke Israel, Jumat waktu setempat.

Sumber-sumber di kalangan pasukan keamanan serta sejumlah saksi mata mengatakan jet-jet perang Israel bertabrakan dengan dua peluru kendali di sebuah pos militer milik Hamas di Gaza utara. Para sumber mengatakan insiden itu menyebabkan sejumlah orang terluka.


Editor : Kastolani Marzuki