Tragedi Pembantaian Muslim di Christchurch Difilmkan, Judulnya 'Hello Brother'

Anton Suhartono ยท Jumat, 17 Mei 2019 - 10:34 WIB
Tragedi Pembantaian Muslim di Christchurch Difilmkan, Judulnya 'Hello Brother'

Masjid An Nur Christchurch (Foto: AFP)

CANNES, iNews.id - Pembantaian jamaah Salat Jumat di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, akan difilmkan. Rencana mengangkat pembunuhan sadis yang dilakukan pria 28 tahun asal Australia, Brenton Tarrant, itu ke layar lebar disampaikan di Festival Film Cannes di Prancis, Rabu (15/5/2019).

Bahkan sang produser asal Mesir, Moez Masoud, sudah menentukan judul filmnya yakni 'Hello Borother'.

Dilaporkan AFP yang menukil laporan majalah Variety, film mengisahkan tentang satu keluarga asal Afghanistan yang mengungsi dan mencari suaka ke Selandia Baru. Mereka tinggal di Christchurch dan menjadi korban pembantaian Tarrant.

"Di Christchurch pada 15 Maret, dunia menjadi saksi dari kejahatan terhadap kemanusiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata," kata Masoud.

Kru film, lanjut dia, sudah berada di Selandia Baru untuk bertemu dengan para korban selamat serta keluarga korban.

"Cerita yang akan dibawa 'Hello Brother' untuk penonton hanyalah satu langkah dari proses penyembuhan, sehingga kita bisa lebih memahami satu sama lain mulai dari akar penyebab kebencian, rasisme, supremasi, dan terorisme," tuturnya.

Sementara judul tersebut didasarkan pada perkataan yang disampaikan seorang pria tua Afghanistan saat menyapa pelaku pembunuhan di pintu Masjid An Nur. Dia ditembak mati oleh Tarrant. Kalimat tersebut menjadi populer di seluruh dunia sebagai seruan untuk menentang kebencian.

Berita dan produksi pembuatan film ini termasuk singkat yakni hanya 2 bulan setelah peristiwa terjadi. Masoud ikut menulis naskah dan film ini diproduksi oleh Acamedia Pictures.

Sementara itu organisasi yang mewakili komunitas muslim di Christchurch, Asosiasi Muslim Canterbury, mengaku belum diberi tahu soal rencana pembuatan film.

Dalam pernyataan di Facebook, ada kemungkinan organisasi akan menolaknya.

"Kami belum menerima permintaan seperti yang disampaikan itu dan kami juga tidak menyetujuinya," bunyi pernyataan.

Meski demikian, organisasi mengakui tak berhak melarang jika ada pihak yang akan membuat film.

"Kami tidak dapat menghentikan proyek seperti itu jika pembuat film melakukannya, tapi Asosiasi Muslim Canterbury menghargai martabat dan privasi komunitas dan kehormatan para korban merupakan yang terpenting," katanya.


Editor : Anton Suhartono