Trump Duga Korban Tewas Unjuk Rasa Menentang Kenaikan Harga BBM di Iran Ribuan Orang

Anton Suhartono ยท Selasa, 03 Desember 2019 - 19:21 WIB
Trump Duga Korban Tewas Unjuk Rasa Menentang Kenaikan Harga BBM di Iran Ribuan Orang

Donald Trump (Foto: AFP)

LONDON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam penggunaan kekerasan dalam menangani unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM di Iran. Bahkan Trump menduga ribuan orang tewas selama unjuk rasa berlangsung.

Unjuk rasa pecah di Iran sejak 15 November 2019 setelah pemerintah menaikkan harga BBM hingga 200 persen melalui skema baru.

"Iran membunuh, mungkin ribuan dan ribuan orang sekarang kita sedang bicarakan ini. Inilah mengapa mereka memutus sambungan internet. Mereka memutus internet sehingga masyarakat tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi," kata Trump, di London, Selasa (3/12/2019).

Dia pun mendorong media massa untuk masuk Iran dan mengabarkan apa yang sebenarnya terjadi. Tak banyak pemberitaan media lokal yang mengungkap unjuk rasa di Iran.

"Sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana Anda bisa masuk sana, saya tidak tahu bagaimana Anda bekerja, tapi pers harus masuk ke sana dan melihat apa yang terjadi," tuturnya.

Dia yakin ada banyak korban tewas sejak 3 pekan terakhir. Demonstrasi yang merata di berbagai wilayah Iran diwarnai perusakan dan pembakaran. Ratusan bank, stasiun pengisian bahan bakar, serta toko dibakar dan dijarah.

"Bukan sekadar jumlah kecil, tapi buruk. Jumlah besar yang benar-benar buruk, angka yang sangat besar," tuturnya.

Soal tindakan apa yang akan diambil AS terhadap Iran, Trump belum bersedia membeberkannya saat ini.

"Saya lebih suka tidak mengatakannya sekarang. Ini hal yang mengerikan dan saya pikir dunia harus menyaksikan," ujar Trump yang berada di Inggris untuk menghadiri pertemuan NATO.

Organisasi HAM independen Amnesty International dalam laporannya pada Senin (2/12/2019) menyebut jumlah korban tewas sejauh ini 208 orang.

Sehari kemudian Iran menepis angka-angka yang dikeluarkan berbagai pihak terkait jumlah korban dengan menyebutnya sebagai kebohongan total.

"Saya secara eksplisit mengumumkan bahwa jumlah dan angka yang diberikan oleh kelompok yang bermusuhan merupakan kebohongan sangat besar dan data statistik yang ada berbeda dengan apa yang mereka umumkan," kata juru bicara departemen kehakiman, Gholamhossein Esmaili.

Dia menambahkan, nama-nama korban tewas yang disertai dalam laporan juga bohong. Esmaili mengklaim data korban tewas yang diungkap pihak luar termasuk orang yang masih hidup atau mereka yang meninggal namun tak terkait dengan unjuk rasa.

Pihak berwenang belum memberikan korban tewas secara keseluruhan untuk kerusuhan tersebut, melainkan hanya menyebut lima orang di awal saat bentrokan terjadi.


Editor : Anton Suhartono