Usia 92 Tahun, Perempuan Ini Jahit 20.000 Baju untuk Anak-Anak India

Nathania Riris Michico ยท Senin, 18 November 2019 - 06:05 WIB
Usia 92 Tahun, Perempuan Ini Jahit 20.000 Baju untuk Anak-Anak India

Leila telah membuat lebih dari 20.000 gaun untuk anak-anak di India. (FOTO: ABC News/Greg Nelson)

SYDNEY, iNews.id - Banyak orang ingin bersantai ketika memasuki masa tua. Tetapi hal itu tak berlaku bagi perempuan Australia, Leila Cheavin.

Perempuan berusia 92 tahun ini menghabiskan 16 tahun terakhir dari hidupnya untuk menjahit gaun bagi gadis-gadis kurang mampu di India - dan dia sudah menghasilkan begitu banyak baju sehingga desainnya kini dikenal di pasar-pasar di selatan New Delhi.

"Berapa banyak yang sudah saya hasilkan? 20.000? Saya tak ingat. Saya tak begitu menghitungnya," ujar Leila tentang gaun-gaun, yang semuanya unik itu.

"Anda hanya memotong polanya dan menjahitnya. Itu membuat saya sibuk dan memberi saya sesuatu untuk dilakukan," kata dia, kepada ABC News.

Sebagai salah satu dari delapan bersaudara -tiga laki-laki dan empat perempuan- Leila tumbuh dengan membuat pakaiannya sendiri.

Tetapi hal itu biasa saja sampai 2003 ketika dokter umumnya melakukan kunjungan rumah dan mengamati ruang jahit Lelia, proyek membuat gaun ini mulai berjalan.

"Ini idenya: Saya akan membuat Leila mulai menjahit," kenang Dr Rashmi Sharma.

"Kami memiliki beberapa kain sisa di rumah yang saya berikan kepadanya dan bilang, 'Bisakah Anda mengubahnya menjadi sesuatu untuk gadis-gadis ini di India di mana kami mensponsori anak perempuan bersekolah?'," ungkap Sharma.

Melalui proyek amal Food for Life, Sharma membawa sejumlah gaun Leila dari Canberra ke Kota Vrindavan, selatan Delhi, di mana pakaian itu langsung menjadi berita.

"Pakaian ini sangat bagus," kata Sharma, yang mengantarkan gaun-gaun itu sendiri kepada para siswi.

Dia sampai membeli bagasi ekstra 100 kilogram untuk mengangkut gaun-gaun Leila tiap bepergian ke India.

"Anda membagikannya dan anda tak punya waktu untuk benar-benar mengepaskannya dengan mereka, tapi mereka semua benar-benar bahagia, dan mereka mengenakannya di atas seragam sekolah mereka."

"Kemudian ada pertukaran, yang terjadi di setiap taman bermain di seluruh dunia, itu berlanjut dan lalu mereka akan menukar gaun tersebut."

"Dan sangat, sangat gemas melihat anak-anak memakainya dan berputar-putar, membandingkan pola gaunnya," tuturnya.

Setiap meter kain yang digunakan untuk membuat gaun didaur ulang dan disumbangkan.

Pasien-pasien di Rumah Sakit Isabella Plains di Canberra selatan menyumbangkan kantong-kantong kain dan wol, dan Leila menyatukan potongan-potongan aneh tersebut.

Jauh dari kesan serampangan, gaun-gaun Leila langsung dikenali di India sebagai gaun tabrak warna dan pola.

"Kadang-kadang Anda berada di pasar, jauh dari sekolah, dan gadis-gadis kecil berjalan mengenakan salah satu gaunnya," kata Sharma.

"Itu semacam ikon dari kota dan sekolah. Gaun itu indah."

Leila kini bersiap pensiun dari mesin jahitnya, tetapi warisannya yang menakjubkan akan tetap berada di tangan yang tepat.

Beberapa perempuan lain -semuanya pasien Sharma- mengikuti proyek ini, bahkan menambahkan rajutan ke dalam gaun itu.

"Rashmi menjadi dokter kami selama bertahun-tahun dan dia merawat suami saya dan saya sendiri," kata Margaret Dawson.

"Jadi baru-baru ini, tujuh bulan yang lalu, Jack meninggal dan Rashmi bilang, 'Anda harus tetap sibuk'."

"Saya datang suatu hari dan mengatakan saya baru saja ke pameran wol. Dan dia bilang, 'Apakah anda merajut? saya punya sekelompok perempuan. Dan saya berpikir, 'Nah, ini akan menjadi proyek yang hebat.'"

Kaye Ashley sudah merajut sekitar 15 karpet sejauh ini untuk Sharma.

"Saya butuh sekitar satu bulan untuk merajutnya," katanya.

"Saya tak keberatan membantu siapa pun, dan siapa pun yang bisa menggunakannya, saya akan memberikannya."

Meski para perempuan ini biasanya mengerjakan proyek-proyek mereka secara terpisah di rumah, setelah bertemu untuk pertama kalinya untuk berbicara dengan ABC, mereka berencana bertemu secara teratur, berbagi proyek, keterampilan, dan obrolan.

"Kita hidup di tengah masyarakat di mana, seiring bertambahnya usia, Anda menjadi kurang dihargai, sayangnya," kata Sharma.

"Ini adalah cara yang bagus untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa, seiring bertambahnya usia, Anda mungkin sudah tak bekerja tetapi Anda masih memiliki semua keterampilan yang masih perlu kita manfaatkan."

"Mereka adalah sekelompok perempuan baik yang beruntung sekali bisa saya rawat selama bertahun-tahun sekarang, hampir dua dekade untuk beberapa dari mereka," kaya Sharma.

"Kesempatan yang sangat istimewa untuk berada di situasi ini."


Editor : Nathania Riris Michico