Virus Korona: 2 Jurnalis yang Bagikan Foto dan Situasi Dramatis Kota Wuhan Menghilang

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 14 Februari 2020 - 21:11 WIB
Virus Korona: 2 Jurnalis yang Bagikan Foto dan Situasi Dramatis Kota Wuhan Menghilang

Akun sosial media Chen Qiushi telah dihapus. Dia memutuskan masuk ke dalam Wuhan guna melaporkan situasi yang memburuk di sana. (FOTO: YOUTUBE)

BEIJING, iNews.id - Dua jurnalis warga yang mengungkap "kebenaran" tentang apa yang terjadi di Wuhan, pusat penyebaran virus korona, kini tidak diketahui keberadaannya. Mereka adalah Fang Bin dan Chen Qiushi.

Mereka membagikan beberapa video online di sosial media, yang berisi tentang foto dan kisah-kisah dramatis dari dalam Kota Wuhan yang kini dikarantina dan terputus dengan wilayah China lain.

Fang dan Chen memutuskan masuk ke Kota Wuhan dan bertekad membagikan informasi tentang kondisi sebenarnya di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, kepada dunia.

Ribuan orang menonton video laporan mereka dari Wuhan.

Tapi kini akun media social Fang dan Chen menjadi sunyi. Para pengikut akun social media Fang dan Chen kini khawatir jika keduanya akan menghilang untuk selamannya.

Siapa Fang Bin?

Fang Bin merupakan seorang pengusaha di Wuhan. Dia a membagikan video tentang wabah virus korona yang diberi nama Covid-19 untuk melaporkan situasi aktual di sana, dan berjanji melakukan yang terbaik dalam pelaporan.

Dia mengunggah video pertamanya pada 25 Januari 2020 ke saluran YouTube, yang dilarang di China tetapi dapat diakses melalui jaringan pribadi virtual (VPN).

Beberapa video pertama yang dibagikan itu tentang kegiatan Fang berkeliling kota dan menunjukan situasi di berbagai tempat berbeda. Video-video itu ditonton kurang lebih 1.000 kali.

Kemudian pada 1 Februari, Fang merekam suata kejadian yang menyita perhatian orang dan sudah ditonton lebih dari 200 ribu kali. Fang menunjukan delapan mayat yang ditumpuk di dalam minibus di luar rumah sakit di Wuhan.

Setelah video itu viral, Fang menuduh polisi menerobos masuk ke rumahnya pada malam hari yang sama, dan menginterogasi tentang video tersebut.

Dia dibawa pergi, diberi peringatan lalu akhirnya dibebaskan oleh polisi.

Fang tidak berhenti. Kemudian pada 9 Februari, dia kembali membagikan sebuah video durasi 13 detik dengan tulisan, "semua orang memberontak -menyerahkan kembali kekuasaan pemerintah kepada rakyat."

Setelah video itu, akun media social menjadi sunyi.

Apa yang diketahui tentang Chen Qiushi?

Chen adalah mantan pengacara hak asasi manusia yang kemudian menjadi jurnalis video. Dia cukup dikenal di kalangan aktivis.

Reputasi perjuangan Chen terbangun dan dikenal sejak dia mengabarkan peristiwa protes di Hong Kong, Agustus lalu.

Saat dia kembali ke daratan China, otoritas China melecehkan dan memberangus akun sosial dan hasil liputannya. Tidak berhenti sampai di situ, akun sosial media Chen di China yang dilaporkan memiliki 700 ribu pengikut dihapus.

Perlakuan Pemerintah China, tidak mampu membuat Chen diam.

Pada Oktober lalu, dia membuat akun YouTube yang kini memiliki 400 ribu pengikut. Dia juga memiliki lebih dari 265 pengikut di Twitter.

Pada akhir Januari lalu, Chen memutuskan masuk ke dalam Wuhan guna melaporkan situasi yang memburuk di sana.

"Saya akan menggunakan kamera saya untuk mendokumentasikan apa yang sebenarnya terjadi. Saya berjanji tidak akan menutupi kebenaran," kata Chen dalam video YouTube pertamanya, seperti dilaporkan BBC, Jumat (14/2/2020).

Setelah sampai di Wuhan, Chen mengunjungi berbagai rumah sakit di Wuhan, melihat kondisinya dan berbicara dengan para pasien.

Chen menyadari tindakan itu membahayakan dirinya. Dia mengatakan kepada wartawan BBC awal bulan ini bahwa dia tidak yakin berapa lama bisa melanjutkan tindakan itu.

"Sensornya sangat ketat dan akun orang-orang ditutup jika mereka membagikan konten saya," katanya.

Kemudian, pada 7 Februari lalu, sebuah video dibagikan di akun Twitter Chen -yang saat ini dikelola oleh temannya.

Video itu menampilkan ibu Chen yang bercerita bahwa Chen hilang sehari sebelumnya.

Melalui sebuah video YouTube, teman Chen, Xu Xiaodong, kemudian menuduh bahwa Chen dikarantina secara paksa.

Apa yang dikatakan pihak berwenang China?

Pihak berwenang China tetap membisu tentang hilangnya dua jurnalis warga tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang tentang di mana keberadaan Fang Bin dan Chen Qiushi, atau sejak kapan dan di mana keberadaan mereka jika dikarantina.

Peneliti dari Amnesty Internasional, Patrick Poon, mengatakan masih belum jelas apakah Chen atau Fang dibawa pergi oleh polisi atau ditempatkan di bawah karantina paksa.

Poon meminta pihak berwenang setidaknya menghubungi anggota keluarga untuk menyampaikan keberadaan Chen dan Fang.

"Pihak berwenang China harus memberi tahu keluarga mereka dan memberi mereka akses memilih dan mendapatkan pengacara. Kalau tidak terjadi maka itu adalah bukti bahwa mereka berisiko disiksa atau diperlakukan sewenang-wenang," kata Poon, kepada BBC.

China dikenal kerap menekan para aktivis yang vokal menyampaikan kritik atas kasus korona, dengan tujuan menunjukan bahwa wabah dapat dikendalikan.

Menurut peneliti Human Rights Watch (HRW), pihak berwenang China saat ini lebih fokus untuk membungkam kritik karena mengandung penyebaran virus.

Sebelumnya, seorang dokter di Wuhan yang bernama Li Wenliang, diperingatkan tidak menyebarkan "komentar palsu" setelah meningkatnya kekhawatiran tentang virus awal Desember lalu.

Hingga akhirnya, Li terjangkit virus korona dan meninggal dunia.

Kematian Li menyebabkan gelombang kemarahan dan pemberontakan di sosial media. Otoritas China terpana, dan bereaksi dengan berusaha untuk menyensor setiap komentar kritis tentang kematian Dr. Li.

"Pemerintah China yang otoriter memiliki sejarah dalam melecehkan dan menahan warga yang berbicara kebenaran atau mengkritik pihak berwenang selama keadaan darurat publik, misalnya, selama SARS pada 2003, gempa Wenchuan pada 2008, kecelakaan kereta Wenzhou pada 2011, dan ledakan kimia Tianjin pada 2015," kata peneliti HRW, Yaqiu Wang kepada BBC.

Wang mengatakan, "China perlu belajar dari pengalaman dan memahami bahwa kebebasan informasi, transparansi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia akan memudahkan pengendalian penyakit, bukan malah menghambatnya."

"Pihak berwenang sendiri melakukan tindakan merugikan dengan (diduga) menghilangnya Fang dan Chen," kata dia.

Di situs berita China, Weibo, muncul beberapa komentar yang menyebutkan tentang Chen dan Fang -dan tampaknya tulisan akan segera disingkirkan oleh sensor China yang selalu waspada.

"(Mereka) menulis ulang sejarah," isi satu komentar.

"Perlahan itu akan seperti (tidak pernah ada) seseorang yang bernama Chen Qiushi."


Editor : Nathania Riris Michico