Visa Senator Ditolak, Presiden Duterte Ancam Hentikan Latihan Perang Filipina dengan AS

Anton Suhartono ยท Jumat, 24 Januari 2020 - 14:46 WIB
Visa Senator Ditolak, Presiden Duterte Ancam Hentikan Latihan Perang Filipina dengan AS

Rodrigo Duterte (Foto: AFP)

MANILA, iNews.id - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengancam akan menghentikan pakta militer dengan Amerika Serikat (AS) yakni latihan perang bersama yang biasa digelar setiap tahun.

Ancaman ini akan diwujudkan jika AS menolak memberikan visa perjalanan kepada Ronald Dela Rosa, senator Filipina yang mengawasi perang terhadap kejahatan narkoba.

"Sekarang, mereka tidak akan membiarkan Bato pergi ke AS", kata Duterte, menggunakan nama panggilan akrab Dela Rosa, dikutip dari AFP, Jumat (24/1/2020).

Duterte bahkan memberi waktu 1 bulan kepada AS untuk menentukan sikap.

"Jika Anda (AS) tidak mengoreksi, pertama, saya akan menutup pangkalan, Perjanjian Kunjungan Pasukan (VFA). Saya memberi (waktu) kepada Pemerintah AS 1 bulan dari sekarang," ujarnya, melanjutkan.

Upaya keras Duterte memerangi kejahatan narkoba dikecam komunitas internasional karena mengabaikan HAM. Sejak dia menjabat sebagai presiden pada 2016, lebih dari 6.000 orang tewas tanpa melalui pengadilan.

Aktivis HAM menyebut jumlah korban sebenarnya bisa empat kali lebih dan bisa digolongkan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sebelumnya Dela Rosa, yang juga mantan kepala kepolisian nasional Filipina, mengatakan AS membatalkan visanya tanpa alasan jelas.

Saat Duterte mencanangkan perang terhadap kejahatan narkoba, Dela Rosa merupakan kepala kepolisian nasional dan berperan menindak ribuan orang yang diduga sebagai pedagang dan pengguna.

Sementara itu Departemen Luar Negeri AS dan Kedutaan Besar AS di Manila Filipina menanggapi soal visa Dela Rosa.

VFA berisi aturan soal partisipasi pasukan AS dalam latihan perang bersama di Filipina. Pakta itu juga menjadi payung hukum untuk dimulainya kembali latihan perang skala besar antara kedua negara setelah militer AS menutup pangkalan Filipina pada 1990-an di tengah meningkatnya sentimen anti-AS.

Pada 2016 Duterte pernah mengancam membatalkan perjanjian tersebut saat AS masih dipimpin Barack Obama, namun tak sampai terealisasi.


Editor : Anton Suhartono