Wali Kota Manila Geram Kotanya Disebut sebagai Provinsi China

Anton Suhartono ยท Jumat, 21 Agustus 2020 - 14:34:00 WIB
Wali Kota Manila Geram Kotanya Disebut sebagai Provinsi China
Label produk kosmetik China menyebutkan Manila sebagai provinsi dari China (Foto: Philippine Daily Inquier)

MANILA, iNews.id - Wali Kota Manila, Filipina, Isko Moreno geram karena daerah yang dipimpinnya disebut sebagai provinsi China. Dia pun mendesak dua warga China yang terlibat dihukum.

Moreno mendesak otoritas terkait untuk mendeportasi dua orang tersebut, terkait label pada produk dagangan mereka yang menyebut Manila sebagai provinsi China serta melanggar aturan berbisnis di kotanya.

Dua orang tersebut, bersama tiga warga Filipina, dipanggil pada Kamis (20/8/2020) setelah pemerintah kota menemukan label pada produk kosmetik yang tampaknya salah cetak.

Kasus ini terungkap setelah Biro Perizinan Manila mendapat laporan dari konsumen tentang label mencurigakan pada produk yang mereka beli. Laporan itu ditintaklanjuti dengan menutup empat kios kosmetik di mal Binondo.

"(Anda boleh) Berharap, lima pemilik Elegant Fumes Beauty Products tidak lagi menjalankan bisnis di Manila," kata Moreno, dalam tayangan video di Facebook, seperti dilaporkan kembali Philippine Daily Inquirer, Jumat (21/8/2020).

"Saya akan mengirim surat ke Biro Imigrasi untuk mendeportasi dan menyatakan dua warga negara China ini sebagai orang asing yang tidak diinginkan, melanggar aturan dan regulasi dalam berbisnis di Manila, serta salah mengartikan Manila sebagai bagian dari China," ujarnya, menjelaskan.

Dia pun meminta pihak terkait untuk segera mengubah label yang salah itu.

"Saya bukan gubernur China, saya Wali Kota Manila, Filipina," tuturnya.

Selain itu, pemerintah kota juga mengungkap perusahaan tersebut belum mendapat izin dari badan pengawas obat dan makanan Filipina, FDA.

"Kami baru tahu setelah berkoordinasi dengan FDA, mereka tidak punya izin. Apa maksudnya ini? Beberapa warga bisa terancam bahaya karena produk mereka tidak diverifikasi oleh FDA. Faktanya, tidak ada nomor batch serta nama dan alamat perusahaan atau orang yang bertanggung jawab memasarkan produk tersebut," kata Moreno.

Editor : Anton Suhartono