Warga Hong Kong Gelar Aksi Damai untuk Hormati Mahasiswa yang Meninggal akibat Demonstrasi

Anton Suhartono ยท Minggu, 10 November 2019 - 10:13 WIB
Warga Hong Kong Gelar Aksi Damai untuk Hormati Mahasiswa yang Meninggal akibat Demonstrasi

Puluhan ribu warga Hong Kong gelar berbelasungkawa untuk Alex Chow (Foto: AFP)

HONG KONG, iNews.id - Puluhan ribu warga Hong Kong turun ke jalan, Sabtu (9/11/2019), untuk menghormati seorang mahasiswa yang meninggal akibat terjatuh dari gedung parkir saat mengikuti aksi demonstrasi Hong Kong pada Minggu pekan lalu.

Massa mengenakan pakaian serbahitam sebagai bentuk belasungkawa dan penghormatan atas meninggalnya mahasiswa berusia 22 tahun bernama Alex Chow.

Chow meninggal pada Jumat (8/11/2019) dini hari setelah 5 hari dirawat di Rumah Sakit Queen Elizabeth. Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Sains dan Teknologi itu terjatuh dari gedung parkir setelah petugas menembaki para demonstran yang berada di gedung menggunakan gas airmata.

Dia ditemukan terkapar bersimbah darah di halaman parkir lantai bawah pada Senin dini hari dan langsung dilarikan ke RS. Sejak itu Chow tak sadarkan diri dan kritis.

Meninggalnya Chow memicu kemarahan dari aktivis prodemokrasi dan warga Hong Kong yang mendesak digelarnya penyelidikan atas aksi kekerasan polisi.

Kemarahan semakin bertambah setelah polisi menangkapi beberapa anggota parlemen terkait kekisruhan di gedung parlemen pada Mei lalu.

“Saya ingin penyelidikan independen karena ini bisa membuktikan bahwa Hong Kong merupakan tempat dengan aturan hukum," kata seorang perempuan 35 tahun, yang hanya memberikan nama keluarga Wong, dikutip dari AFP, Minggu (10/11/2019).

Perempuan asli China yang pindah ke Hong Kong 3 tahun lalu itu juga menyerukan kepada massa untuk tidak terpancing menggunakan cara-cara kekerasan dalam merespons aksi kepolisian.

“Saya pikir cara-cara tanpa kekerasan juga bisa menang," katanya.

Sementara itu tujuh anggota parlemen menghadapi ancaman hukuman 1 tahun penjara jika terbukti bersalah. Tiga ditangkap pada Jumat malam, tiga lainnya ditangkap di kantor polisi pada Sabtu malam saat memenuhi panggilan penyelidik, dan seorang lagi masih dicari.

Mereka dituduh berbuat kekacauan saat sidang komite legislatif ketika anggota parlemen pro-demokrasi mencoba menghentikan pembahasan RUU ekstradisi, isu yang menjadi pemicu aksi unjuk rasa besar-besaran di Hong Kong.

“Unjuk rasa yang telah berlangsung selama 5 bulan belum selesai tapi pemerintah sudah melakukan penangkapan besar-besaran terhadap para legislator pro-demokrasi padahal mereka bekerja sama dengan polisi," kata anggota parlemen dalam sebuah pernyataan bersama.

Anggota parlemen Hong Kong merupakan campuran antara politisi prodemokrasi dan pro-China. Setengah kursi diisi oleh politisi yang dipilih melalui pemilu dan sisanya dipilih oleh komite pro-Beijing.

Editor : Anton Suhartono