Warga Myanmar Tur ke Belanda, Dukung Aung San Suu Kyi di Pengadilan Internasional soal Rohingya

Anton Suhartono ยท Jumat, 29 November 2019 - 18:16 WIB
Warga Myanmar Tur ke Belanda, Dukung Aung San Suu Kyi di Pengadilan Internasional soal Rohingya

Banner dukungan untuk Aung San Suu Kyi (Foto: AFP)

YANGON, iNews.id - Para pendukung pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi menggelar tur ke Den Haag, Belanda. Rencana ini terkait kehadiran Suu Kyi dalam sidang di Pengadilan Internasional atau International Court of Justice (ICJ).

Gambia, negara di Afrika Barat yang juga anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), melaporkan Myanmar terkait tuduhan pembersihan etnis muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine. Rangkaian sidang akan dimulai pada 10 Desember 2019.

Sejak pemerintah mengumumkan rencana kedatangan Suu Kyi untuk mewakili langsung Myanmar ke Pengadilan Internasional pada pekan lalu, gelombang dukungan dari warga mengalir. Tak hanya di media sosial, dukungan juga diberikan melalui banner raksasa di jalanan.

Dukungan tak hanya disampaikan di Myanmar, mereka bahkan siap berangkat ke Den Haag menyertai Suu Kyi.

Peluang ini pun dimanfaatkan perusahaan travel di Myanmar dengan membuka paket perjalanan selama 5 hari ke Den Haag.

Staf sebuah perusahaan travel, Ma July mengatakan, setiap orang dikenakan 2.150 dolar AS atau Rp30 juta, sudah termasuk visa, akomodasi, dan transportasi.

Presenter televisi kenamaan Mg Mg Aye merupakan salah satu dari sekitar 20 orang yang telah mendaftar.

"Saya percaya ini adalah tugas kami sebagai warga negara. Penting bagi dunia untuk mengetahui bahwa rekan senegara (Suu Kyi) memberikan dukungan penuh," kata Pencilo, seraya mengajak 1,1 juta pengikutnya Facebook-nya untuk melakukan hal yang sama.

Gambia, atas nama 57 negara anggota OKI, melaporkan Myanmar atas pelanggaran konvensi genosida PBB yakni melakukan pembersihan etnis terhadap muslim Rohingya untuk kasus tahun 2017.

Pembantaian di Rakhine memaksa sekitar 740.000 muslim Rohingya eksodus ke Bangladesh. Komisi HAM PBB dalam laporannya juga mengungkap terjadinya pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran yang luas. Para penyelidik PBB menyebutnya sebagai genosida.

Suu Kyi sebagai pemimpin sipil dianggap tak bisa berbuat banyak untuk menyelesaikan konflik, namun di negaranya dia tetap dihormati. Sekitar 3.000 pendukung melakukan unjuk rasa pada Minggu (24/11/2019) di pusat kota Monywa.

Banner berisi dukungan juga muncul. Seorang warga membuat banner dengan tulisan, "Kami mendukung Anda' yang juga menampilkan foto Suu Kyi sambil tertawa bersama tiga menteri yang ditunjuk mendampinginya ke ICJ.

Bahkan Duta Besar Israel untuk Myanmar Ronen Gilor ikutan memberikan dukungan melalui ucapannya yang kontroversial di Twitter.

Dia mendoakan Myanmar mendapat keberuntungan dan berharap mendapat keputusan terbaik. Namun cuitan itu dihapus tak lama kemudian. Kementerian Luar Negeri Israel menyebut cuitan itu merupakan kesalahan.

Editor : Anton Suhartono