Aturan Jaga Jarak Picu Keributan di Halte Bus Transjakarta Pulogadung

Antara ยท Senin, 16 Maret 2020 - 11:58 WIB
Aturan Jaga Jarak Picu Keributan di Halte Bus Transjakarta Pulogadung

Kericuhan terjadi di tengah antrean penumpang bus transjakarta di Halte Pulogadung, Senin (16/3/2020). (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Kericuhan terjadi di tengah antrean penumpang bus transjakarta di Halte Pulogadung, Senin (16/3/2020). Diduga aturan baru menjaga jarak antarpenumpang menjadi pemicu kericuhan.

Aturan baru di Halte Bus Transjakarta itu merupakan respons dari instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang membatasi layanan transportasi massal sebagai bentuk pencegahan virus korona jenis baru covid-19.

"Petugas menerapkan aturan penjagaan jarak satu sampai dua meter antarpenumpang, sementara bus datangnya lama. Ini agak sulit buat kami," kata salah satu penumpang, Asa (27), di Jakarta.

Buntut dari kebijakan tersebut, antrean panjang tak terhindarkan yang terjadi sejak pukul 06.00 hingga 08.30 WIB. Penumpang harus mengantre selama berjam-jam mulai dari jembatan penyeberangan hingga ke halte bus.

"Aturan pembatasan jarak ini saya kira tidak efektif. Penumpangnya banyak begini, akhirnya dempet-dempetan juga sampai ke dalam bus," kata Aryo (39).

Keributan penumpang terjadi sekitar pukul 07.00 WIB saat penumpang yang merasa terlalu lama mengantre memprotes kebijakan pembatasan armada bus kepada petugas. Beberapa penumpang pada antrean terdepan menjelang pintu masuk halte terlibat cekcok mulut dengan petugas berseragam keamanan.

"Saya sudah kelamaan ini pak nunggunya. Jangan lagi kita diminta mundur-mundur terus dan jaga jarak. Susah ini pak," teriak salah satu penumpang kepada petugas keamanan.

Bahkan sebagian penumpang ada yang membatalkan pemberangkatan dengan bus karena situasi halte yang padat. "Rame banget dan penumpangnya juga dibatasi hanya beberapa yang boleh masuk ke bus," kata penumpang tujuan Bea Cukai dari Harapan Bunda itu.

Humas PT TransJakarta, Nadia mengatakan, pihaknya melakukan pembatasan operasional armada dalam rangka meminimalkan dampak penularan virus korona pada fasilitas transportasi publik di Jakarta. "Modifikasi pola operasi itu guna membatasi interaksi atau jarak antarpenumpang atau 'social distancing' di angkutan umum," katanya.

Kebijakan ini berlaku pada 16-30 Maret 2020 menyusul imbauan Pemprov DKI Jakarta dalam upaya memutus penyebaran virus yang belum ditemukan obatnya itu.

Editor : Djibril Muhammad