Cerita Kakak Kandung: Adi Saputra Jadi Tulang Punggung Keluarga

Okezone.com, hambali ยท Sabtu, 09 Februari 2019 - 20:24 WIB
Cerita Kakak Kandung: Adi Saputra Jadi Tulang Punggung Keluarga

Adi Saputra (Okezone.Com)

TANGERANG SELATAN, iNews.id - Adi Saputra, pria yang viral di media sosial (medsos) lantaran merusak sepeda motornya saat ditilang polisi di kawasan Bumi Damai Serpong (BSD) Tangerang Selatan, Kamis (7/2/2019), akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Pemuda 21 tahun itu disangkakan atas tindak pidana membuat surat palsu atau memalsukan surat, penipuan atau penggelapan, penadahan atau menghancurkan barang yang digunakan untuk membuktikan sesuatu di muka petugas yang berwenang atau merusak barang milik orang lain dengan ancaman hukuman enam tahun penjara.

Adi diciduk polisi dari kontrakan orangtuanya di Jalan Budeh No 48 B, Rawa Mekar Jaya, Serpong, Tangsel. Saat ini, pria kelahiran Kota Bumi Lampung Utara itu telah ditahan di Mapolres Tangsel. Adi mengaku menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada masyarakat serta polisi terisak menangis saat ditangkap. 

Kakak Kandung Adi, Sundari (24) mengatakan, sifat Adi di tengah keluarga berbeda 180 derajat dengan sikap emosi atau terkesan tempramental seperti saat ditilang polisi di BSD. Sosok Adi sehari-hari di lingkungan keluarga begitu memperhatikan kehidupan kedua orang tuanya, Jahri dan Turminah. Sebagai penjual kopi, Adi menjadi tulang punggung keluarga.

“Dia itu bisa dibilang sangat pendiam orangnya, kalau sudah pulang dagang ya diam di kontrakan saja. Sayang banget sama orang tua, kalau pulang pasti dia sempatin tengok bapak sama ibu, kasih uang buat belanja. Uang makan, bayar kontrakan, listrik, semua dia yang cari," kata Sundari di kontrakannya di Rawa Mekar Jaya, Serpong, Sabtu (9/2/2019).

Adi merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Di rumah kontrakan tersebut, Adi tinggal bersama adiknya, Aldi (15) dan Sundari. Sedangkan empat saudara kandung lainnya tinggal menetap di Lampung, menggeluti pekerjaan sebagai buruh tani.

“Kalau saya dagang kue di Pasar 8 Alam Sutera. Jadi saya dan adiknya ini tinggal di sini ikut dibantu si Adi. Dia yang bawa kita merantau ke sini. Karena di Lampung kan juga sulit cari kerjaan. Saudara kita yang lain masih tinggal di sana jadi buruh tani,” ujar Sundari.

Kesehariannya, Adi bekerja sebagai penjual kopi di Pasar Modern BSD. Penghasilannya pun tak seberapa. Bahkan, untuk mencari uang tambahan demi orang tua, Adi sempat bekerja membantu di warung tenda di Pasar Modern BSD hingga larut malam.

“Dulu habis dagang kopi pulang sore, habis itu lanjut lagi bantu-bantu di warung tenda. Tapi semenjak adiknya datang dari Lampung, dia masukin adiknya kerja di situ. Jadi dia cuma dagang kopi saja sekarang,” ucap Sundari.

Keluarga mengaku syok saat polisi datang menjemput Adi pada Jumat (8/2/2019), sekitar 01.00 WIB dini hari. Malam itu, Adi menginap di kontrakan orang tuanya di Rawa Mekar Jaya.

"Kita enggak tahu ke depan mau gimana, karena yang biayai kontrakan orang tua dan kebutuhan sehari-hari ya Adi itu. Kalau saya kan sudah bekeluarga, punya anak, banyak tanggungan. Mau besuk saja enggak bisa, kita enggak ada yang punya motor, enggak ada yang damping. Jadi enggak ngerti caranya gimana mau ke sana,” tutur dia.

Lokasi kontrakan orang tua Adi berada di dekat kontrakan Sundari. Namun, kondisi kontrakan orang tua Adi tertutup. Sundari mengatakan, kedua orangtuanya tengah berada di rumah saudaranya yang lain.

"Bapak sama ibu lagi pergi, kasihan sudah tua renta jadi ikutan pusing dengan kondisi begini. Kita sangat berharap, ada kebijakan dari Pak Polisi. Kita keluarga yakin, yang dilakukan Adi spontanitas saja, mungkin karena banyak pikiran dia enggak sadar bersikap begitu. Kalau yang bakar STNK, itu memang temannya yang dorong-dorong, kan Adi sempat cerita juga ke adiknya soal itu," kata Sundari.

Editor : Khoiril Tri Hatnanto