Gara-Gara Saluran Air, Puluhan Santri dan Warga Nyaris Bentrok

hambali ยท Minggu, 08 November 2020 - 02:15:00 WIB
Gara-Gara Saluran Air, Puluhan Santri dan Warga Nyaris Bentrok
Puluhan santri dan warga di Tangsel nyaris bentrok gara-gara saluran air disumbat (Foto: Hambali/Okezone)

TANGERANG SELATAN, iNews.id - Puluhan santri salah satu pondok pesantren di Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, bertikai dengan warga. Pemicunya, saluran air di area yang berbatasan dengan perumahan sekitar diputus.

Informasi yang dihimpun, kejadian berlangsung pada Kamis (5/11/2020) malam. Awalnya sekitar 20 santri mendatangi lokasi saluran air yang disumbat warga perumahan. Para santri ingin mengecek sekaligus membongkar material coran agar saluran air lancar kembali.

Kerumunan puluhan santri itu mengundang keresahan warga. Mereka memertanyakan para santri yang membongkar saluran air tanpa izin terlebih dulu ke pengurus lingkungan.

Silang pendapat pun terjadi, santri merasa penyumbatan saluran itu membuat pondok pesantren tergenang. Di sisi lain, warga mengaku sengaja menutupnya karena sampah dan kotoran kerap terbawa air dari dalam asrama sehingga mengotori permukiman.

"Ketika lagi membongkar, tiba-tiba ada satpam bertanya lagi ngapain. Terus saya jelaskan, lagi menemani teman bongkar selokan. Tapi dari satpamnya melarang, jangan dibongkar dulu karena mau lapor ke Pak RT dan komandannya," kata kordinator santri, FS (20), Sabtu (7/11/2020)

Setelah itu muncul warga sekitar hingga terjadi perdebatan serius dan terlontar kata-kata kasar.

Tak ingin cekcok berubah menjadi adu fisik, salah seorang tokoh warga melerai dan meminta santri kembali ke pondok.

"Warga ada yang pulang ambil golok, ada juga yang menembakkan senapan angin ke atas agar kami bubar," ujar FS.

Setelah itu batu melayang dari lokasi yang diduga tempat aktivitas para santri ke permukiman. Lemparan itu mengenai kepala warga berinisial FG (47).

"Korbannya satu orang, batunya ada masih saya simpan buat bukti. Korban sudah visum ke (RS) Hermina. Dari situ warga ramai, cuma saya tahan-tahan biar enggak meluas," tutur tokoh warga, MB (58).

Sejumlah pemuda mendatangi pondok pesantren dan meminta pertanggungjawaban. Salah satu santri terkena pukulan dan bentuk penganiayaan lain.

"Kalau soal saluran air itu sebenarnya kita ingin penyelesaian secara musyawarah, duduk bareng. Itu kan masalah lama yang sudah sering kami komplain. Saluran air itu kadang membuat banjir, sampah bungkus mi, kotoran, sampai Softex ikut kebawa saluran. Dari dulu, kami ingin pengelola pondok memerhatikan soal itu, ditertibkan," tutur MB.

Sementara, Kanit Reskrim Polsek Cisauk Iptu Hambali membenarkan salah satu warga mengalami luka di kepala akibat lemparan batu. Namun persoalan tersebut sudah diselesaikan dengan mediasi agar tak meluas.

"Jadi pemicunya karena soal saluran air, sehingga muncul perselisihan. Ada satu warga terkena lemparan batu, tapi sudah kami mediasi semuanya," tuturnya.

Menurut dia, kasus hukum bisa saja berlanjut jika korban merasa tak puas dengan jalur mediasi. Hanya saja, dia berharap kedua pihak menjaga kondusivitas lingkungan dengan mengutamakan jalur musyawarah.

Editor : Anton Suhartono