Jelang Pilkada, Polisi Bongkar Jaringan Produsen Uang Palsu di Tangsel

Hasan Kurniawan, Sindonews ยท Kamis, 12 Maret 2020 - 10:20 WIB
Jelang Pilkada, Polisi Bongkar Jaringan Produsen Uang Palsu di Tangsel

Polres Tangsel membongkar jaringan produsen uang palsu yang diedarkan di Tangsel. (Foto: SINDOnews/Hasan Kurniawan)

JAKARTA, iNews.id - Polisi berhasil membongkar sindikat pembuatan uang palsu di Tangerang Selatan (Tangsel). Uang palsu diduga semakin banyak beredar jelang Pilkada 2020.

Wakapolres Tangsel Kompol Didik Putra Kuncoro mengatakan terbongkarnya sindikat ini berawal dari penangkapan dua tersangka pengedar uang palsu. Dua tersangka bernama Andi Mansyur (61) dan Riski (25) diketahui pernah melakukan transaksi jual beli uang palsu di Apartemen Altiz, Pondok Aren.

"Selain itu kami juga menetapkan satu orang berinisial M (45) dalam daftar pencarian orang (DPO) sebagai otak sindikat," kata Didik, Rabu (12/3/2020).

Hasil pemeriksaan menunjukkan dua orang itu tak hanya mengedarkan tapi juga berperan sebagai produsen. Pelaku mengaku memproduksi uang palsu secara manual melalui mesin cetak kertas di Bogor.

Polisi mengamankan uang palsu pecahan Rp100.000 sebanyak 199 lembar dan 500 lembar lainnya yang belum dipotong. Dari pengakuan tersangka ada sekitar Rp300 juta uang palsu yang beredar di Tangsel.

"Itu belum yang tersebar di Cimahi, Bandung, dan lokasi lain. Mereka mencetak uang palsu menggunakan mesin manual, tinta, kertas uang palsu, alat sablon, alat laminating, dan printer," kata Didik.

Dia pun meminta masyarakat waspada dengan peredaran uang palsu tersebut. Didik mengatakan uang palsu itu luntur jika terkena air.

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Tangsel, AKP Muharam Wibisono Adipradono mengatakan jelang Pilkada 2020 Tangerang Selatan mulai marak lagi peredaran uang palsu. Dia mengimbau masyarakat waspada karena secara kasat mata dan fisik, bahan uang palsu terlihat berbeda dari yang asli.

"Jelang pilkada memang marak beredar uang palsu, masyarakat perlu lebih peka," kata Muharram.

Muharram menjelaskan uang palsu yang diproduksi tersangka di Bogor memiliki kualitas rendah, yaitu tidak menggunakan kertas uang dan serat hologram. Pelaku bernama Andi Mansyur mengaku mendapat bayaran Rp500.000 setiap memproduksi Rp1 juta uang palsu.

"Saya baru terjun empat bulan lalu karena kebutuhan ekonomi. Dijual ke masyarakat seharga Rp1 juta untuk Rp10 juta uang palsu," ucapnya Andi.

Tersangka dikenakan Pasal 36 Ayat 2 atau Ayat 3 Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang Palsu. Ancaman penjara 15 tahun pun menunggu mereka.

Editor : Rizal Bomantama