Banjir Jakarta

Kisah Jumpa Pers Sekda DKI Saefullah, dari Bodrex hingga Pipi Gemuk

Wildan Catra Mulia ยท Kamis, 08 Februari 2018 - 07:45 WIB
Kisah Jumpa Pers Sekda DKI Saefullah, dari Bodrex hingga Pipi Gemuk

Sekda DKI Jakarta Saefullah menggelar jumpa pers tentang penanganan banjir di Balai Kota Jakarta, Rabu, 7 Februari 2018, malam. (Foto: Wildan Catra Mulia)

JAKARTA, iNews.id – Ada pemandangan tak biasa di Balai Kota Jakarta, Rabu malam, 7 Februari 2018. Sekretaris Daerah (Sekda) Saefullah menggelar jumpa pers tentang banjir Jakarta. Mengenakan baju putih dipadu rompi BPBD, dia menjelaskan langkah-langkah penanganan yang dilakukan Pemprov DKI.

Jelas pemandangan ini agak ”tak biasa” karena jarang sekali Saefullah menggelar konferensi pers. Selama ini, podium kayu itu pun lebih sering diisi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno untuk menjelaskan isu-isu terkini di Jakarta kepada awak media. Saefullah biasanya baru hadir ketika Gubernur atau Wakil Gubernur tak ada di tempat.

Saat jumpa pers menerangkan situasi terkini tentang banjir itu, Saefullah ternyata tak melulu serius. Di sela-sela penjelasannya, Bang Ipul banyak menyelipkan ”kalimat-kalimat aneh” yang mengundang tawa.

Ditanya wartawan mengenai besaran biaya pembebasan lahan untuk normalisasi rumah warga di sekitar Kali Ciliwung, birokrat kelahiran Rorotan, Cilincing itu bilang ces plong.

"Kalau dia (punya) sertifikat, mau. Dinaikkan harganya berapa, ces plong.. dibayar. Ces plong tahu nggak? Manjur ya, langsung dibayar ya. Kalau kita pusing, minum Bodrex . Langsung sembuh gitu, itu ces plong. Jadi ini (soal ganti rugi lahan) begitu suratnya beres, langsung dibayar, kontan, tunai," katanya, tegas.

Saat ditanya soal sampah berton-ton yang masuk Jakarta saat banjir, terutama di Pintu Air Manggarai, Saefullah lagi-lagi menyampaikan pernyataan bernada banyolan.

"Agak repot alat berat kita stand by terus, sama kulkas (yang hanyut). Kemarin tuh kulkas banyak banget, kulkas masih ada nasinya, ada juga tuh rendangnya, masih ada nasi padang (di dalamnya)," canda Saefullah, yang disambut gelak tawa jurnalis.

Saefullah melanjutkan, jika Kali Ciliwung meluap, sodetan yang mengarah ke Kanal Banjir Timur (KBT) akan dibuka agar air mengalir ke sana. Bagi dia, persoalan itu cukup sederhana.

"Kalau Ciliwung meluap, itu sodetan tinggal dibuka saja. Silakan teman-teman air lewat sini ya (ke KBT). Di sana lancar, enggak ada manusia. Enak di sana itu lewat," tutur Saefullah. "Kan malaikat itu, sama semua makhluk hidup bisa diajak bicara. Sama hewan, sama tumbuhan, air juga bisa diajak bicara sebetulnya," lanjut  alumnus IKIP Muhammadiyah Jakarta (1988) ini.

Tidak cukup sampai di situ, Saefullah juga menjawab enteng ketika ditanya perbandingan antara banjir tahun lalu dengan sekarang.  "Tahun lalu, yang Ciliwung lama itu dilepas sehingga ada kejadian banjir di Gunung Sahari dan sekitarnya," ucapnya.

"Airnya itu maunya lewat situ, sudah maksa dia. Saya bilang 'sabar dulu' gitu. Kan bisa diajak bicara, air. Sabar dulu. Lewat BKB itu. Ternyata bisa diorganisir dengan baik," sambung dia seolah-olah bicara dengan air.

Saefullah juga menyinggung warga yang dulu tinggal di bantaran Waduk Pluit dan kini telah pindah ke Rumah Susun Marunda. Menurutnya, warga Rusun Marunda sekarang terlihat makmur.

"Pada gemuk-gemuk di Marunda saya lihat. Pipimya pada gemuk-gemuk begitu. Berarti sejahtera dia sebetulnya itu. Ada futsal, ada permainan, ada musik, ada apa, pokoknya mereka happy," kata mantan Wali Kota Jakarta Pusat ini.

Editor : Zen Teguh