Polda Metro Jaya Tangkap Sindikat Mafia Tanah Peraup Miliaran Rupiah

Irfan Ma'ruf ยท Kamis, 22 Agustus 2019 - 23:45 WIB
Polda Metro Jaya Tangkap Sindikat Mafia Tanah Peraup Miliaran Rupiah

Polisi merilis hasil pengungkapan kasus kejahatan yang dilakukan komplotan mafia tanah di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (22/8/2019). (Foto: iNews.id/Irfan Ma'ruf)

JAKARTA, iNews.id – Polda Metro Jaya menangkap tujuh tersangka pelaku mafia tanah di Ibu Kota. Modus kejahatan yang dilakukan para tersangka itu adalah menduplikat surat tanah kemudian menggadaikannya untuk meraup keuntungan miliaran rupiah.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Gatot Eddy Pramono, menyebut kasus penipuan itu terjadi pada Agustus dan Oktober 2018. Tersangka SD, RK, K, A, HM, S, dan MGR berhasil menipu dua korban yang hendak menjual tanah dan rumah mereka di Jakarta.

“Modusnya ketika ada orang menawarkan tanah, dia (pelaku) datang dan nego dan diberikan _soft copy_ (surat tanah) oleh korban. Pelaku ini sudah siapkan surat tanah yang palsu untuk ditukar,” kata Gatot di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (22/8/2019).

Dia menjelaskan, sindikat tersebut mencari korban yang hendak menjual tanah maupun rumah, lalu mereka menukar sertifikat tanah dan menggadaikannya ke bank untuk mendapatkan keuntungan. “Ini terjadi di lokasi pertama di rumah korban di Jalan Iskandarsyah Raya, Jaksel seharga Rp64,5 miliar dan lokasi kedua di tanah di Komplek Liga Mas di Pancoran, Jaksel, seharga Rp24 miliar,” ungkap Gatot.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimmum) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Suyudi Ario Seto mengatakan, dari hasil penipuan mereka, sindikat tersebut menyebabkan kerugian hingga Rp88,5 miliar bagi para korbannya. “Ini sindikat yang sama dengan kasus mafia tanah yang kami rilis di Kompleks Perkantoran Wisma Iskandarsyah, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu,” kata Suyudi.

Tujuh tersangka menjalankan aksi dengan peran berbeda-beda. Ada yang menjadi pembuat sertifikat palsu; ada yang berperan sebagai calo pembuat sertifikat palsu; sebagai pejabat pembuat akta tanah (PPAT), dan; sebagai penjamin sertifikat hak milik (SHM) milik korban.

“Pimpinannya pelaku berinisial SD dia yang menjaminkan SHM milik korban. Dia ini residivis telah divonis sembilan tahun penjara,” ujar Suyudi.

Dia mengungkapkan, modus operandi para tersangka yakni dengan menawar rumah yang hendak dijual oleh pemilik kemudian membujuk pemilik untuk memberikan SHM dengan tujuan melakukan pengecekan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). “Setelah berhasil membawa sertifikat asli pemilik, dibawa ke notaris palsu untuk dipalsukan. Sertifikat asli pemilik diagunkan, sementara sertifikat palsu dikembalikan ke pemilik,” terang Suyudi.

Para tersangka dikenakan Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 266 KUHP jo Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP dengan ancaman pidana paling lama tujuh tahun penjara.


Editor : Ahmad Islamy Jamil