Polisi Buru Pemasok Senpi ke Penembak Dokter Letty

ยท Sabtu, 11 November 2017 - 17:32 WIB
Polisi Buru Pemasok Senpi ke Penembak Dokter Letty

Jenazah dokter Letty Sultri dibawa dari rumah duka menuju pemakaman, Sabtu (11/11/2017). (Foto: Sindonews/Rahmat Bagja)

JAKARTA, iNews.id – Polisi terus mengusut kasus penembakan dokter Letty Sultri, 46. Sejauh ini delapan orang telah dimintai keterangan , termasuk Ryan Helmi, tersangka yang juga suami korban.  Penyidikan kini juga fokus kepada penjual senjata api (senpi) ke tersangka.

”Pelaku mengaku membeli lewat perantara.  Siapa? Itu yang masih kami ditelusuri karena tersangka menyatakan tidak kenal (dengan penjual),” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono di Jakarta, Sabtu (11/11/2017) .

Menurut Argo, penyidik dari Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya sedang mendalami jalu pembelian senjata ilegal. Selain itu penyidik juga terus mengorek keterangan tersangka.

Seperti diketahui,  Letty diberondong enam tembakan oleh Helmi saat berpraktik di Azzahra Medical Centre, Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur, Kamis, 9 November 2017.  Dugaan sementara pelaku menghabisi nyawa istrinya karena tak terima hendak diceraikan.

Usai menembak mati Letty, Helmi yang juga berprofesi sebagai seorang dokter itu lantas menyerahkan diri ke polisi. Penyidik Polda Metro Jaya menemukan dua pucuk senjata api rakitan di tas yang dibawanya saat itu. Senpi berjenis revolver dan bareta itu belakangan diketahui dibeli pelaku seharga Rp45 juta.

Sabtu siang tim dari laboratorium forensik (labfor) Polri mendatangi Ditreskrimum untuk memeriksa dua senpi itu. Tim labfor juga memeriksa swipe pada tangan pelaku sebagai pemeriksaan bukti bahwa dialah yang menarik pelatuk pistol itu hingga menewaskan istrinya. Bukti itu akan menjadi penguat bahwa Helmi adalah pelaku penembakan.   

Argo menjelaskan, selain memburu penjual senpi, polisi juga sedang mencari pengemudi ojek online yang membawa pelaku setelah peristiwa penembakan.  ”Senin (13 November 2017) akan dilakukan prarekonstruksi peristiwa ini,” kata Argo.

Editor : Zen Teguh