Praktik Aborsi Ilegal di Paseban, Polisi Buru Dokter Pengganti

Irfan Ma'ruf ยท Jumat, 21 Februari 2020 - 10:05 WIB
Praktik Aborsi Ilegal di Paseban, Polisi Buru Dokter Pengganti

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus menunjukkan barang bukti penggerebekan klinik aborsi ilegal di Polda Metro Jaya, Jumat (14/2/2020). (Foto: iNews.id/Nur Ichsan).

JAKARTA, iNews.id – Penyidik Polda Metro Jaya terus memburu dokter berinisial A yang diduga terlibat praktik aborsi ilegal di Jalan Paseban Raya, Senen, Jakarta Pusat. Selain itu, polisi juga memburu bidan yang membantu operasi pengguguran kandungan itu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, dokter A disebut tersangka dokter MM yang menjalankan praktik aborsi ilegal tersebut. Dokter A merupakan pengganti saat MM cuti.

Untuk mengembangkan kasus ini, polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi. Seiring hal itu, penyidik mulai melakukan pemberkasan.

"Sambil berjalan kita lengkapi berkas, kemudian kita periksa saksi-saksi yang ada," Yusri, Jumat (21/22020). Namun, Yusri tak menerangkan berapa saksi telah diperiksa.

Mantan Kabid Humas Polda Jawa Barat ini hanya menuturkan para saksi dari berbagai latar belakang, mulai ahli pidana, kesehatan dan lainnya.

Yusri mengatakan, polisi juga memburu bidan DIO yang disebut tersangka bidan RM turut serta dalam praktik aborsi ilegal itu. Namun keberadaannya juga belum diketahui.

"Kita terus selidiki. Biasa lah kalau kayak begini pasti ngumpet semua, tiarap. Kemudian, bidan RM mengatakan ada nama DIO, pas saya cek ke sana enggak ada nama itu," tutur Yusri.

Dalam kasus ini penyidik Subdit Sumber Daya Lingkungan (Sumdaling) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menangkap tiga orang tersangka, Senin (10/2/2020). Mereka yakni dr MM, bidan RM dan tenaga administrasi SI.

Ketiga tersangka merupakan residivis kasus sama dan kini ditahan di rumah tahanan (rutan) Polda Metro Jaya. Mereka dijerat pasal berlapis.

Menurut Yusri, para tersangka dikenakan Pasal 83 juncto (jo) Pasal 64 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan atau Pasal 75 ayat (1), Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan atau Pasal 194 jo Pasal 75 ayat (2) Undnag-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan jo Pasal 55, 56 KUHP dengan ancaman hukuman di atas 10 tahun penjara.


Editor : Zen Teguh